Legenda Desa
Pada masa kepemimpinan Kanjeng Susuhunan Sayidin Panotogomo yang
memerintah pada tahun 1601 Kerajaan Mataram menguasai wilayah brang
wetan dan brang kulon ( bahasa Jawa sebelah barat dan sebelah timur )
diantaranya Kadipaten Pucang Kembar yang dipimpin oleh Hadipati Citro
Kusumo , Kadipaten Bulupitu di pimpin oleh Jaka Puring dan Kadipaten
Karang Gumelem . Dalam cerita ini yang menjadi lakon adalah sebagian
dari wilayah brang kulon .
Pada waktu itu Hadipati Pucang Kembar
mempunyai putri yang cantik jelita bernama Dewi Sulastri . Hadipati
Bulupitu Raden Jaka Puring terkenal sakti mandraguna tetapi belum punya
istri dan dia menderita cacat yaitu bibirnya tebal sebelah ( istilah
Jawa mengrot ) dan kakinya pincang , mendengar bahwa di Kadipaten Pucang
Kembar ada seorang putri cantik anak dari Hadipati Citro Kusumo maka
Jaka puring ingin membuktikan dan bermaksud mempersuntingnya sebagai
istri .
Setelah Raden Jaka Puring melihat kecantikan Dewi
Sulastri ia lalu melamarnya namun belum diterima atau masih ditangguhkan
karena Jaka Puring adalah seorang pemuda yang cacat maka ia disuruh
menunggu dan dipersilahkan untuk tinggal sementara di Pucang Kembar.
Tidak lama kemudian datanglah seorang pemuda tampan dari Kadipaten
Karang Gumelem bernama Raden Jono yang bermaksud hendak melamar
pekerjaan di Kadipaten Pucang Kembar sambil mencari saudara kandungnya
yang bernama Raden Wiro Kusumo , namun Sang Hadipati Citro Kusumo
bingung karena tidak ada pekerjaan untuk Raden Jono bersamaan dengan itu
putri Sang Hadipati Citro Kusumo yaitu Dewi Sulastri melihat pemuda
tampan itu maka tertarik hatinya dan mengajukan usul kepada Kanjeng
Romonya ( bahasa Jawa Ayah ) agar Raden Jono diterima bekerja di
Kadipaten Pucang Kembar . Akhirnya Sang Hadipati menerima Raden Jono
sebagai juru taman di Kaputren Dewi Sulastri . Karena sering bertemu
antara Raden Jono dan Dewi Sulastri saling jatuh cinta ( Pepatah Jawa
mengatakan , ” Witeng Tresno Jalaran Soko Kulino ” ).
Sementara
dalam penantiannya Raden Jaka Puring sudah jemu menunggu jawaban dari
Dewi Sulastri . Ia merasa curiga dengan hubungan Dewi Sulastri dan Raden
Jono maka sambil menunggu jawaban dari Dewi Sulastri , Raden Jaka
Puring menyuruh Pangeran Usmono Usmani ( adik Dewi Sulastri ) untuk
mengawasi gerak-gerik Dewi Sulastri dan Raden Jono . Berdasarkan
pengamatannya , Pangeran Usmono Usmani melaporkan bahwa Dewi Sulastri
telah menjalin cinta dengan Raden Jono . Mendengar laporan itu Raden
Jaka Puring merasa tersinggung dan mengambil kesimpulan bahwa dirinya
ditolak karena Dewi Sulastri berpacaran dengan Raden Jono . Jaka Puring
marah dan terjadilah perang antara Raden Jono dan Raden Jaka Puring .
Singkat cerita pertempuran yang tidak seimbang itu membuat Raden Jono
kalah dan lari mencari perlindungan ke Pesanggrahan Pring Ori ( kelak
bernama Desa Ori di wilayah Kecamatan Kuwarasan ) . Raden Jono minta
perlindungan pada Kyai Karyadi dan disuruh sembunyi di dalam lumbung dan
di tutup pakai kapuk ( kapas ) , tidak lama kemudian Raden Jaka Puring
sowan pada Kyai Karyadi dan menanyakan keberadaan Raden Jono namun sang
Kyai membohonginya dan mengatakan bahwa Raden Jono tidak berada di
pesanggrahan Pringori . Jaka Puring lalu pulang kembali ke Kadipaten
Bulu Pitu
Setelah Jaka Puring pergi maka Raden Jono dikeluarkan
dari lumbung dan ditanya apa sebabnya Raden Jono dikejar-kejar oleh
Raden Jaka Puring . Raden Jono menceritakan pada Kyai bahwa
perjalanannya ke Pucang Kembar untuk melamar pekerjaan sambil mencari
saudara kandungnya Pangeran Wiro Kusumo setelah tiba di Pucang Kembar
diterima sebagai juru taman dan dicintai oleh Dewi Sulastri sementara
Raden Jaka Puring yang sedang menunggu jawaban dari Dewi Sulastri atas
lamarannya yang sesungguhnya ditolak karena Raden Jaka Puring menderita
cacat , namun karena tidak tega untuk mengatakan alasan yang sebenarnya
maka lamaran atas Dewi Sulastri hanya ditangguhkan jawabannya dan
dipersilahkan untuk tinggal sementara di Kadipaten Pucang Kembar sembari
menunggu jawaban dari Dewi Sulastri . Tapi karena Dewi Sulastri talah
jatuh cinta kepada Raden Jono akhirnya Raden Jaka Puring cemburu dan
terjadi pertarungan antara Raden Jono dan Raden Jaka Puring sampai
akhirnya Raden Jono kalah dan lari ke Pesanggrahan Pring Ori untuk
menimba ilmu di pesanggrahan sehingga bisa mengalahkan Raden Jaka Puring
dan memperisteri Dewi Sulastri .
Mendengar jawaban dari Raden Jono
sang kyai memberi saran . Untuk mencapai tujuannya Raden Jono harus
bersemedi ( bertapa ) di bawah pohon besar bernama Wit Benda ( Pohon
Benda : bahasa Jawa ) dan pohon itu berada di daerah yang angker namun
dalam melakukan semedi itu harus dengan hati yang tulus , suci dan sabar
.
Raden Jono pun menurut pada kata-kata Kyai Karyadi ia pun
melakukan semedi dengan sabar dan hati yang tulus dan akhirnya
pertapaannya mendapatkan hasil dari yang Maha Kuasa dengan memperoleh
pusaka berupa Bungkul Kencana ( keris : bahasa Jawa ) . Dan akhirnya
Raden Jono pulang ke Pucang Kembar bertemu dengan Dewi Sulastri dan
ternyata Raden Jaka Puring sudah berada di Pucang Kembar untuk
menanyakan jawaban Dewi Sulastri atas lamarannya . Dewi Sulastri
menjawab bahwa dia mau dipersunting oleh siapapun namun ia punya bebana
awujud adon-adon / giri patembaya ( bahasa jawa permintaan pertarungan )
antara Raden Jono dan Jaka Puring . Maka terjadilah pertarungan sengit
antar keduanya yang dimenangkan oleh Raden Jono maka dikawinkanlah Dewi
Sulastri dengan Raden Jono sedang Raden Jaka Puring Lari dan pulang ke
Bulu Pitu .
Bersamaan dengan itu Hadipati Pucang Kembar mendapat
surat mandat ( nawala ) dari Susuhunan Sayidin Panatagama ( Raja Mataram
) untuk memberantas gerombolan berandal di Gunung Tidar. Akhirnya
Hadipati Pucang Kembar Citro Kusumo memerintahkan menantunya sebagai
bukti pengabdiannya untuk memberantas berandal di Gunung Tidar atau
sebagai Duta Pamungkas. Maka walupun dengan perasaan berat meninggalkan
Dewi Sulastri Raden Jono berangkat menjalankan tugas sebagai Duta
Pamungkas dari Susuhunan Sayidin Panatagama ( Raja Mataram ) ke Gunung
Tidar sebagai bukti pengabdian kepada mertua dan negara . Mendengar
berita bahwa Raden Jono diberi mandat untuk menjadi Duta Pamungkas Raden
Jaka Puring yakin bahwa Raden Jono pasti gugur melawan gerombolan
berandal di Gunung Tidar maka Raden jaka Puring menuju ke Pucang Kembar
untuk menemui dan merebut Dewi Sulastri .
Dalam keadaan Dewi
Sulastri sendiri tanpa suami dipaksa oleh Raden Jaka Puring untuk
mengikuti kemauan Raden Jaka Puring menjadi istrinya . Sebagai seorang
istri yang setia kepada suami Dewi Sulastri tidak mau menghianati Raden
Jono maka akhirnya Raden Jaka Puring membawa lari dengan paksa Dewi
Sulastri keluar dari kaputren . Sementara itu Raden Jono sampai di
Gunung Tidar menjelang malam dan menunggu munculnya gerombolan berandal .
Setelah malam datang akhirnya gerombolan pengacau itu muncul dan
bertarunglah Raden Jono melawan gerombolan yang terkenal bengis dan
sakti mandraguna namun dengan kesaktian dan niat suci pengabdiannya
kepada negara dan orang tua serta berbekal Pusaka Bungkul Kencana
akhirnya Raden Jono bisa mengalahkan gerombolan berandal itu dan
membunuh pimpinannya dengan Bungkul Kencana . Dalam keadaan keris
terhunus diperut pimpinan gerombolan itu menyebut-nyebut nama saudara
kandungnya ,” Aduh , Dimas Jono dimanakah keberadaanmu lihatlah
Kangmasmu ini sedang sekarat dan jauh dari saudara ”. Mendengar rintihan
itu Raden Jono tersentak dan menjawab perkataan dari pimpinan
gerombolan itu yang ternyat saudara kandung yang selama ini dicarinya ,”
Aduh Kakangmas maafkan adikmu ini yang hanya menjalankan tugas dan
ternyata yang kubunuh adalah Kangmas Wiro Kusumo , maafkan adikmu ini
yang tidak tahu bahwa yang akan kubunuh adalah Kangmas Wiro Kusumo ”.
Raden
Jono memeluk Raden Wiro Kusumo yang sedang sekarat dan keduanya saling
bertangisan sambil bermaafan akhirnya Raden Wiro Kusumo tewas di
pangkuan Raden Jono .
Betapa sedihnya perasaan Raden Jono memikirkan
garis hidupnya yang harus melaksanakan tugas negara dengan meninggalkan
istri tercinta dan ternyata harus membunuh kakak kandungnya sendiri .
Raden Jono pun pulang ke Pucang Kembar membawa kemenangan berselimut
kesedihan karena harus mengorbankan nyawa saudara kandungnya yang
selama ini sedang dicarinya demi pengabdiannya kepada mertua dan negara.
Sesampai di Pucang Kembar semakin terguncang perasaan Raden Jono
mendapati Dewi Sulastri telah dibawa lari oleh Raden Jaka Puring . Dalam
keadaan lelah dan terguncang Raden Jono pun mengembara mencari
keberadaan Dewi Sulastri menjelajah setiap wilayah sampai akhirnya tiba
di pesisir selatan .
Sementara itu pelarian Raden Jaka Puring
membawa Dewi Sulastri juga ke pesisir selatan . Sepanjang perjalanan
Raden Jaka Puring senantiasa merayu Dewi Sulastri agar bersedia
malayaninya namun rasa cinta dan kesetiaannya kepada Raden Jono tetap
dipegang teguh oleh Dewi Sulastri sampai akhirnya Raden Jaka Puring
kehilangan kesabarannya dan akhirnya Dewi Sulastri diikat pada sebuah
pohon pandan .
Bersamaan dengan itu perjalanan Raden Jono sudah
sampai di tempat itu namun sebelum ia bertemu dengan Dewi Sulastri
ternyata Raden Jaka Puring telah lebih dulu melihat kedatangannya .
Dengan sekonyong- konyong Raden Jaka Puring menyerangnya sehingga
terjadi pertempuran yang sengit antara Raden Jono melawan Raden Jaka
Puring . Dalam pertempuran itu Raden Jaka Puring terdesak dan kalah lalu
melarikan diri ke arah utara . Raden Jono lalu menemui Dewi Sulastri
yang masih terikat di pohon pandan . Terjadi suatu keajaiban bahwa pohon
pandan tempat mengikat Dewi Sulastri berubah warna menjadi kuning
sedang pohon pandan yang lain tetap berwarna hijau . Maka oleh Raden
Jono tempat itu diberi nama Pandan Kuning ( kelak menjadi Pesanggrahan
Pandan Kuning ).
Keajaiban kembali terjadi , setelah Raden Jono
melepas ikatan Dewi Sulastri mereka lalu ditemui oleh Nyi Roro Kidul (
Ratu Pantai Selatan ) dan bidadari dari kayangan Dewi Nawang Wulan .
Oleh Nyi Roro Kidul Dewi Sulastri disuruh pulang ke Pucang Kembar dengan
perlindungan dari Nyi Roro Kidul dan Dewi Nawang Wulan . Sedang Raden
Jono disuruh mengejar raden Jaka Puring ke arah utara . Perjalanan Raden
Jono mengejar Raden Jaka Puring ke arah utara masuk ke sebuah hutan
lebat yang banyak ditumbuhi pohon gadung penuh duri sebagai tempat
persembunyian Raden Jaka Puring .
Disetiap langkahnya Raden Jono
kesrimpet-srimpet wit gadung ( bahasa Jawa terhalang pohon gadung )
hampir di setiap pori-pori kulitnya terselip duri gadung hingga darah
bercucuran maka alas atau hutan itu oleh Raden Jono dinamakan
Karanggadung ( kelak menjadi desa Karanggadung ) .
Pelarian Raden
Jaka Puring terus ke arah utara namun Raden Jono kehilangan jejak maka
langkahnya menjadi ragu-ragu selangkah berhenti lalu melangkah lagi dan
berhenti lagi sambil dia menengok mau terus ke utara atau ke selatan
atau ke barat atau ke timur . Langkahnya yang mandeg mangu ( ragu-ragu )
itu membuat Raden Jono memberi nama tempat dengan nama ” Manga-mangu ”
yang artinya perasaan ragu-ragu ( kelak menjadi desa Munggu ) . Namun
akhirnya raden Jono memutuskan untuk mengejar ke arah utara sehingga
mereka bertemu dan kembali terjadi pertarungan antar keduanya dan
masing-masing membuat benteng pertahanan ( kelak dikenal sebagai ”
Beteng ” dan ” Pertahanan ” ) dalam perkembangannya wilayah itu bernama
Petanahan / kelak menjadi desa
Petanahan dan bekas bentengnya terkenal
dengan nama ” Beteng ” .
Mereka terus bertarung sambil
kejar-kejaran hingga sampai pada suatu tempat merasa kehausan dan hendak
minum namun airnya berbau banger ( bahasa Jawa busuk ) yang konon
dikarenakan bangkai manusia yang mati dan tidak dikubur dengan keajaiban
hidup kembali ( pada urip , berasal dari bahasa Jawa ) dan tempat itu
diberi nama Grumbul Banger Desa Padaurip ( kelak menjadi desa Padaurip )
.
Aksi kejar-kejaran itu terus ke arah utara sampai pada suatu
tempat yang banyak ditumbuhi pohon Jati dan kehidupan masyarakatnya
mulya ( sejahtera ) sehingga tempat itu dinamai Jatimulya ( kelak
menjadi desa Jatimulya ) .
Kejar - kejaran dan pertarungan itu terus
berlanjut ke utara sampai pada tempat / pekarangan yang banyak
ditumbuhi wit gedang ( bahasa jawa pohon pisang ) lalu tempat itu diberi
nama Karanggedang ( kelak menjadi Desa Karanggedang ) .
Dari
Karanggedang mereka berlari kearah barat melewati sebuah sungai yang
ditepi sungai itu banyak orang sedang memandikan (guyang ) hewan
sehinga tempat itu dinamakan Guyangan.
Pengejaran dan pertarungan
masih terus berlanjut kearah barat melewati sebuah grumbul atau alas
yang berupa rumput alang- lang yang luas maka tepat itu diberi nama ”
Alang – alang amba ” Kelak menjadi Desa Alang – alang Amba .
Pengejaran dan pertarunganpun terus berlanjut kearah selatan dalam
keadaan sangat letih dan lemah mereka masih bisa bertahan hidup maka
tempat itu diberi nama ” Kuwarasan ”. Merekapun terus bertarung dan
saling mengejar menuju arah selatan sampai mereka berdua merasa kesal
sendiri dan muring – muring ( bahasa Jawa marah –marah ) sambil
istirahat Raden Jono memberi nama tempat itu ”Puring ”( Kelak menjadi
pasar Puring ) .Walaupun dalam keadaan lelah dan letih Jaka Puring masih
terus berusaha lari dan mencari hidup dan terus berlari ke selatan
sampai di kisik / pesisir samudra yang tanahnya wedi ( bahasa jawa
pasir ) yang setiap dilewati atau sepanjang kaki melangkah wedinya gugur
alias ambruk maka tempat itu diberi nama ” Wedi Gugur ” kelak menjadi
Pesanggrahan Wedi Gugur.
Raden Jaka Puring terus berusaha
menghindar dari kejaran Raden Jono menuju kearah barat sampai akhirnya
terjadi pertarungan lagi yang sangat sengit dan saling mengeluarkan
kadigdayan ( kekuatan ) dan Raden Jaka Puring tersungkur sehingga tangan
yang hendak diarahkan ke Raden Jono akhirnya mengenai karang sampai
tembus / bolong sehingga tempat itu diberi nama Karangbolong , namun
Raden Jaka Puring masih berusaha lari ke utara sampai akhirnya kehabisan
tenaga sehingga tergelincir ke sungai dan pada kesempatan itu Raden
Jono menghunus pusaka Bungkul Kencono dan menancapkanya ke tubuh Raden
Jaka Puring dan terjadilah suatu keajaiban Raden Joko Puring berubah
menjadi Buaya putih dan melontarkan sumpah serapah kepada Raden Jono
bahwa dia menerima kekalahanya tidak bisa memperistri Dewi Sulastri dan
menerima karma menjadi buaya putih namun bersumpah bahwa setiap
keturunan Raden Jono yang memakai pakaian sama dengan yang dipakai oleh
Dewi Sulastri akan menjadi mangsa / dimakan oleh buaya putih, Pakaian
itu adalah mbayak ijo gadung ( Kebayak ), Jarit Amba Lurik ( Kain /
tapih ) dan benting tritik ( stagen ). Atas kejadian itu oleh Raden Jono
tempat itu diberi nama ”Buayan” kelak menjadi Kecamatan Buayan.
Dengan rasa letih dan tubuh yang penuh luka Raden Jono Pulang ke Pucang
Kembar membawa perasaan suka cita atas kemenangannya melawan Raden Joko
Puring dan perasaan rindu ingin segera bertemu Dewi Sulastri . Suasana
penuh haru meliputi Kadipaten Pucang Kembar saat pertemuan antara Raden
Jono dan Dewi Sulastri beserta keluarga kadipaten. Akhirnya Raden Jono
di nobatkan sebagai Hadipati di Pucang Kembar.
Sumber: Dokumen Pemerintahan Desa Karanggadung
Thursday, October 17, 2013
Sejarah Masjid Agung Kebumen, Soko Gurunya dibuat dalam Semalam
Pendiri Masjid Agung Kauman Kebumen
Konon Masjid Agung Kauman Kebumen didirikan pada Tahun 1832 M dengan soko gurunya dibuat dakam semalam. Keberadaanya tidak bisa dilepaskan dari sosok KH. Imanadi, putra Kyai Nurmadin atau Pangeran Nurudin bin Pangeran abdurrahman alias Kyai Marbut Roworejo. Dialah pendiri Masjid Agung Kebumen yang kini sudah berumur 176 tahun. Makam ulama yang diyakini hidup antara tahun 1775-1850 M itu berada di Dusun Pesucen, Desa Wonosari, Kebumen.
Belum ada referensi tertulis yang bisa dijadikan rujukan untuk menyingkap sejarah berdirinya Masjid Agung Kauman Kebumen. Sumber yang bisa dijadikan patokah adalah cerita lisan turun temurun, termasuk dari keturunan K.H. Imanadi yang masih hidup.
K.H. Imanadi merupakan salah satu punggawa Pangeran Diponegoro yang gigih melawan penjajah. Dia diyakini sebagai seorang ahli Fiqih dan hukum ketatanegaraan. Adipati Arumbinang ke-IV yang menjadi penguasa Kebumen saat itu berkenan mengeluarkan K.H. Imanadi dari penjara karena menjadi tahanan politik Belanda. Arumbinang IV konon mendapat wangsit jika ingin kuat maka harus menemui dan bekerja sama dengan K.H. Imanadi. Bahkan K.H. Imanadi diangkat menjadi Penghulu Landrat atau Kepala Depag dan Pengadilan Agama pertama di Kebumen.
Salah satu keturunan ke-6 K.H. Imanadi, M. Sudjangi menuturkan, saat perang Diponegoro (1825-1830), K. H. Imanadi yang paling gigih menentang Belanda. Saat itu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat telah dikuasai Belanda. Penjajah tersebut mengangkat adik Pangeran Diponegoro menjadi Hamengkubowono ke-IV (1814-1822 M). Padahal mestinya Pangeran Diponegoro yang berhak menjadi Sultan.
Kegigihan Imanadi yang pernah bermukim di Mekkah sekaligus menunaikan ibadah haji melanjutkan perjuangan ayahnya K. Nurmadin dan kakeknya Pangeran Abdurrahman atau K. Marbut. K. Marbut diyakini saudara kandung Pangeran Diponegoro yang juga putra kandung Hamengkubuwono ke-3.
Saat itu, Pangeran Abdurrahman diperimtah Keraton Ngayogyakarta untuk mencari kakak kandungnya yakni Kyai Mursid yang pergi entah kemana. Dia kontra dengan Keraton yang telah dikuasai Belanda. Singkat cerita, Pangeran Abdurrahman bertemu dengan Kyai Mursid di tempat lain yang sekarang dinamai desa Roworejo.
Kondisi Bangunan Masjid
Masjid kebanggaan masyarakat Kebumen ini dapat dikatakan besar, sebab ukuran bangunannya sendiri berukuran panjang kurang lebih 50 meter dan lebarnya kurang lebih 25 meter. Masjid ini memiliki dua lantai. Pada lantai bawah terdapat 2 buah bedug dengan ukuran berbeda, yang pertama seperti pada umumnya, sedangkan yang kedua dengan ukuran yang besar, yakni dengna ukuran sebagai berikut :
Bedug Ijo Mangun Sari
Dibuat : Tanggal 15 Sya’ban 1422 H
Ukuran : – p = 260 cm – d = 160 cm
- k = 500 cm – d bagian tengah = 180 cm
Jumlah paku : 108 biji
Bahan : kayu waru
Mengenal ruangan masjid
Pada bagian serambi terdapat kurang lebih 36 tiang sebagai penyangga atap masjid, sedangkan di bagian ruang utama masjid terdapat kurang lebih 19 tiang dengan 8 diantaranya sebagai tiang yang pokok. Pada ruang utama masjid juga terdapat hiasan dinding berupa kaligrafi yang semakin membuat masjid ini tampak begitu indah dipandang dan terasa suasana timur tengah. Sementera itu, di bagian depan terdapat dua buah jam, yaitu sebuah jam Istiwa sebagai penunjuk waktu sholat dan sebuah jam sebagai penunjuk waktu WIB.
Sebagai sarana pendukung kegiatan sholat Jum’at dan sholat Idul Fitri serta Idul Adha, di dalam Masjid Agung terdapat sebuah mimbar sebagai tempat khotbah yang berdiri dengan karpet berwarna biru yang indah dan berukiran kaligrafi.
Suci dari hadas dan najis merupakan bagian dari syarat sahnya sholat, sehingga seperti masjid pada umumnya, masjid ini juga dilengkapi dengan sarana tempat untuk berwudhu.
Masjid Agung ini juga dilengkapi dengan sebuah Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) yang didirikan sejak tahun 1996 M. Di TPQ ini juga diadakan kegiatan pembinaan tilawatil Qur’an.
Untuk mengembangkan wawasan ilmu para santri, di TPQ ini juga dilengkapi dengan ruang perpustakaan yang di dalamnya terdapat berbagai macam buku bacaaan.
Sumber:AnakBumen dan Suara Merdeka
Sejarah Berdirinya Desa Peniron, Kec. Pejagoan, Kab. Kebumen
Peniron masa lampau adalah sebuah belantara dilembah Luk Ulo. Konon
yang membuka hutan dan menjadikan daerah pemukiman adalah seorang ulama /
kesatria bernama Eyang Rohmanudin alias Mbah Kuwu. Sayangnya, sampai
akhir hayatnya Eyang Rohmanudin tidak mempunyai keturunan. Jasadnya
dimakamkan di Pemakaman Istana Gede, di dukuh Krajan Peniron. Di
pemakaman umum ini, banyak dimakamkan tokoh-tokoh pendahulu Peniron
seperti Eyang Rohmanudin, Mbah Kalipancur, Mbah Udadiwangsa dan Mbah
Samikarya.
Menyebut sejarah, cerita Peniron tak lepas dari sejarah berdirinya kota Kebumen/Kebumian/Kabumian. Pada saat Ki Bumi, seorang Senopati dari Mataram membuka desa di lembah Luk Ulo sehingga dinamakan Ki-Bumi-an atau Ke-Bumi-an atau sekarang menjadi Kebumen, seorang pengikutnya yaitu Ki Bodroyudo/Eyang Bodroyudo tinggal di Peniron.
Disamping beliau, sejarah Peniron juga mencatat pejuang-pejuang yang lain seperti Eyang Kuntiri, Eyang Ragil, Eyang Nayawedana sang penakluk jin dan membuka hutan menjadi daerah Kebokuning, serta Eyang Drapaita alias Mbah Kalipancur yang dengan menancapkan keris dan keluar air sehingga daerah Kalipancur terdapat mata air yang tak pernah kering. Pejuang Peniron lainnya adalah Eyang Canakrom dan Eyang Guna Wijaya atau Eyang Astaguna atau Mbah Watupecah, seorang empu yang selalu mandi menggunakan api.
Masih banyak lagi tokoh-tokoh dalam sejarah Peniron, tetapi yang mengherankan beberapa sumber sejarah tidak mau bercerita secara detail bahkan menutup diri untuk membuka cerita tokoh-tokoh yang konon memang sengaja dirahasiakan.
Entahlah, mungkin justru dengan adanya rahasia dari tokoh-tokoh di Peniron itulah yang akhirnya menjadikan Peniron punya ciri khas cerita sejarah tersendiri.
Dari sisi pemerintahan, Peniron pertama kali dipimpin oleh Ki Udadiwangsa, konon beliau memimpin Peniron jauh sebelum tahun 1900an. Makam beliau ada di Istana Gede.
Selanjutnya, Peniron dipimpin oleh Ki Ranareja, yang di sebut-sebut sebagai Demang pertama. Salah satu tokoh nasional yang merupakan garis keturunan dari beliau adalah Edi Nalapraya, seorang jenderal yang dulu pernah memimpin IPSI. Atas kepedulian Edi Nalapraya, komplek pemakaman trah Ranareja kini telah dibangun dengan bagus dan rapi.
Setelah Ki Ranareja, pemimpin ketiga Peniron adalah Eyang Tirtawijaya yang tinggal di Bulugantung. Rumah tinggalnya dulu kini ditempati oleh keluarga Bapak Suroso Titodwiatmojo yang merupakan keturunan ketiga. Eyang Tirtawijaya dimakamkan di pemakaman Bulugantung.
Setelah Eyang Tirtawijaya, kepemimpinan Peniron diteruskan oleh putra beliau yaitu Eyang Ketiwijaya/Kusen yang juga ayah dari Bapak Suroso. Makam Eyang Ketiwijaya ada di Bulugantung.
Pemimpin kelima adalah Samikarya. Masa pemerintahannya adalah sesudah kemerdekaan Indonesia (1945). Pada masa itu, Peniron adalah daerah Gelondongan, yaitu sebuah desa koordinator bagi desa-desa sekitarnya, sehingga Kepala Desa waktu itu lebih dikenal sebagai Gelondong. Karena masa itu tidak ada batasan masa jabatan, dia baru berhenti menjadi Kepala Desa pada tahun 1984.
Pemimpin Peniron yang keenam adalah H. Nursodik yang memimpin Peniron selama 16 tahun, dari tahun 1986 – 2002. Beliau dimakam di Pemakaman Umum Karang Cengis.
Pemimpin ketujuh adalah Triyono Adi, yang memimpin Peniron sebagai Kepala Desa sejak tahun 2002 sampai sekarang.
Demikian sekilas tentang cerita sejarah Peniron. Sebagai tulisan rintisan, tentu masih banyak kekurangan dan kesalahan sehingga yang masih memerlukan banyak penyempurnaan. Siapapun masih sangat mungkin untuk menambah cerita sejarah ini karena diharapkan akan menjadi sebuah cerita sejarah yang lengkap, tentu didukung serta diakui oleh warga Peniron sebagai fakta sejarah Peniron. Dengan demikian, akhirnya akan menambah khasanah sejarah Peniron.
Sumber: Wikipedia
Menyebut sejarah, cerita Peniron tak lepas dari sejarah berdirinya kota Kebumen/Kebumian/Kabumian. Pada saat Ki Bumi, seorang Senopati dari Mataram membuka desa di lembah Luk Ulo sehingga dinamakan Ki-Bumi-an atau Ke-Bumi-an atau sekarang menjadi Kebumen, seorang pengikutnya yaitu Ki Bodroyudo/Eyang Bodroyudo tinggal di Peniron.
Disamping beliau, sejarah Peniron juga mencatat pejuang-pejuang yang lain seperti Eyang Kuntiri, Eyang Ragil, Eyang Nayawedana sang penakluk jin dan membuka hutan menjadi daerah Kebokuning, serta Eyang Drapaita alias Mbah Kalipancur yang dengan menancapkan keris dan keluar air sehingga daerah Kalipancur terdapat mata air yang tak pernah kering. Pejuang Peniron lainnya adalah Eyang Canakrom dan Eyang Guna Wijaya atau Eyang Astaguna atau Mbah Watupecah, seorang empu yang selalu mandi menggunakan api.
Masih banyak lagi tokoh-tokoh dalam sejarah Peniron, tetapi yang mengherankan beberapa sumber sejarah tidak mau bercerita secara detail bahkan menutup diri untuk membuka cerita tokoh-tokoh yang konon memang sengaja dirahasiakan.
Entahlah, mungkin justru dengan adanya rahasia dari tokoh-tokoh di Peniron itulah yang akhirnya menjadikan Peniron punya ciri khas cerita sejarah tersendiri.
Dari sisi pemerintahan, Peniron pertama kali dipimpin oleh Ki Udadiwangsa, konon beliau memimpin Peniron jauh sebelum tahun 1900an. Makam beliau ada di Istana Gede.
Selanjutnya, Peniron dipimpin oleh Ki Ranareja, yang di sebut-sebut sebagai Demang pertama. Salah satu tokoh nasional yang merupakan garis keturunan dari beliau adalah Edi Nalapraya, seorang jenderal yang dulu pernah memimpin IPSI. Atas kepedulian Edi Nalapraya, komplek pemakaman trah Ranareja kini telah dibangun dengan bagus dan rapi.
Setelah Ki Ranareja, pemimpin ketiga Peniron adalah Eyang Tirtawijaya yang tinggal di Bulugantung. Rumah tinggalnya dulu kini ditempati oleh keluarga Bapak Suroso Titodwiatmojo yang merupakan keturunan ketiga. Eyang Tirtawijaya dimakamkan di pemakaman Bulugantung.
Setelah Eyang Tirtawijaya, kepemimpinan Peniron diteruskan oleh putra beliau yaitu Eyang Ketiwijaya/Kusen yang juga ayah dari Bapak Suroso. Makam Eyang Ketiwijaya ada di Bulugantung.
Pemimpin kelima adalah Samikarya. Masa pemerintahannya adalah sesudah kemerdekaan Indonesia (1945). Pada masa itu, Peniron adalah daerah Gelondongan, yaitu sebuah desa koordinator bagi desa-desa sekitarnya, sehingga Kepala Desa waktu itu lebih dikenal sebagai Gelondong. Karena masa itu tidak ada batasan masa jabatan, dia baru berhenti menjadi Kepala Desa pada tahun 1984.
Pemimpin Peniron yang keenam adalah H. Nursodik yang memimpin Peniron selama 16 tahun, dari tahun 1986 – 2002. Beliau dimakam di Pemakaman Umum Karang Cengis.
Pemimpin ketujuh adalah Triyono Adi, yang memimpin Peniron sebagai Kepala Desa sejak tahun 2002 sampai sekarang.
Demikian sekilas tentang cerita sejarah Peniron. Sebagai tulisan rintisan, tentu masih banyak kekurangan dan kesalahan sehingga yang masih memerlukan banyak penyempurnaan. Siapapun masih sangat mungkin untuk menambah cerita sejarah ini karena diharapkan akan menjadi sebuah cerita sejarah yang lengkap, tentu didukung serta diakui oleh warga Peniron sebagai fakta sejarah Peniron. Dengan demikian, akhirnya akan menambah khasanah sejarah Peniron.
Sumber: Wikipedia
Sejarah Tiga Mimbar Masjid Wonoyoso, Pekeyongan dan Aditirto
Rata-rata masjid memiliki mimbar tempat
berdiri khatib pada saat khutbah Jum’at. Bentuk dan ukurannya
bermacam-macam, biasanya diletakkan disamping mihrab (tempat imam memimpin sholat jama’ah) dalam masjid.
Di Masjid Wonoyoso yang berada di kompleks Pondok Pesantren Salafiyah
Wonoyoso Kebumen terdapat sebuah mimbar yang usianya lebih dari 60
tahun. Mimbar berbahan baku kayu nangka itu konon dibuat oleh seorang
tukang kayu bernama Tohir yang juga alumni santri Pesantren Salifiah
saat kiai Nasokha.
Cerita tentang pembuat mimbar itu NgapakNEWS dapat dari seorang alumni santri Pesantren Salafiah, Salim, yang kini menjadi pengasuh Musala Asy-Syafi’iyyah Murtirejo Kebumen. Selain alumni santri Pesantren Salafiah di tahun 60an, Salim juga pernah nyantri di pesantren MIftakhul Anwar Pekeyongan. Kabarnya juga, Salim pernah jadi ketua GP Ansor kecamatan Klirong.
Menurut cerita Salim, Tohir membuat tiga buah mimbar dengan bentuk dan ukuran yang sama. Bahan bakunya juga sama, dari kayu nangka. “Beliau menebang pohon nangka sendiri lalu mengolahnya menjadi tiga buah mimbar, tanpa ada yang menyuruh dan membayar, Ikhlas,” kata Salim.
Tiga buah mimbar yang sudah jadi lalu dikirim oleh Tohir ke tiga masjid, yakni Masjid Wonoyoso yang ada di Pesantren Salafiah Wonoyoso, masjid yang ada di Pesantren Miftakhul Anwar Pekeyongan Podoluhur Klirong dan masjid di desa Jonggol Aditirto. Tohir juga mengantar sendiri tiga mimbar tesebut dengan gerobak dan hanya dibantu oleh anaknya.
“Tiga mimbar itu diserahkan sendiri oleh Tohir kepada tiga pengasuh Masjid, dengan pesan jika suatu saat rusak, yang akan memperbaiki juga yang membuat mimbar itu,” kata Salim.
Kabarnya, karena keihlasan Tohir pembuat mimbar itu telah telah menjadikannya pergi haji tanpa persiapan sama sekali. Adiknya yang sudah siap-siap naik haji, seminggu sebelum berangkat meninggal dunia. “Tohir diminta berangkat haji menggantikan adiknya yang meninggal dunia seminggu sebelum pemberangkatan,” lanjut salim.
Sekitar tahun 70an, mimbar buatan Tohir yang ada pondok Miftahul Anwar Podoluhur rusak. Sesuai pesan pembuatnya maka dihubungilah Tohir untuk memperbaikinya. “Waktu itu saya yang disuruh menghubungi Haji Tohir Aditirto. Pada saat bertemu beliau, saya sempat bertanya cerita beliau saat berhaji. Dari sinilah terungkap adanya 3 mimbar buatannya yang dihadiahkan ke tiga masjid,” kenang Salim.
Sampai saat ini, ketiga mimbar kembar itu masih tetap dipakai. Disamping masih kokoh dan terawat baik, bentuk desainnya tidak ketinggalan jaman. Anda bisa melihatnya di Masjid Pondok Salafiyah Wonoyoso kelurahan Bumirejo Kebumen, Masjid Pondok Pesantren Miftahul Anwar Pekeyongan Podoluhur Klirong dan masjid lama desa Aditirto kecamatan Pejagoan. (Agus)
Sumber: NgapakNEWS.com.
Cerita tentang pembuat mimbar itu NgapakNEWS dapat dari seorang alumni santri Pesantren Salafiah, Salim, yang kini menjadi pengasuh Musala Asy-Syafi’iyyah Murtirejo Kebumen. Selain alumni santri Pesantren Salafiah di tahun 60an, Salim juga pernah nyantri di pesantren MIftakhul Anwar Pekeyongan. Kabarnya juga, Salim pernah jadi ketua GP Ansor kecamatan Klirong.
Menurut cerita Salim, Tohir membuat tiga buah mimbar dengan bentuk dan ukuran yang sama. Bahan bakunya juga sama, dari kayu nangka. “Beliau menebang pohon nangka sendiri lalu mengolahnya menjadi tiga buah mimbar, tanpa ada yang menyuruh dan membayar, Ikhlas,” kata Salim.
Tiga buah mimbar yang sudah jadi lalu dikirim oleh Tohir ke tiga masjid, yakni Masjid Wonoyoso yang ada di Pesantren Salafiah Wonoyoso, masjid yang ada di Pesantren Miftakhul Anwar Pekeyongan Podoluhur Klirong dan masjid di desa Jonggol Aditirto. Tohir juga mengantar sendiri tiga mimbar tesebut dengan gerobak dan hanya dibantu oleh anaknya.
“Tiga mimbar itu diserahkan sendiri oleh Tohir kepada tiga pengasuh Masjid, dengan pesan jika suatu saat rusak, yang akan memperbaiki juga yang membuat mimbar itu,” kata Salim.
Kabarnya, karena keihlasan Tohir pembuat mimbar itu telah telah menjadikannya pergi haji tanpa persiapan sama sekali. Adiknya yang sudah siap-siap naik haji, seminggu sebelum berangkat meninggal dunia. “Tohir diminta berangkat haji menggantikan adiknya yang meninggal dunia seminggu sebelum pemberangkatan,” lanjut salim.
Sekitar tahun 70an, mimbar buatan Tohir yang ada pondok Miftahul Anwar Podoluhur rusak. Sesuai pesan pembuatnya maka dihubungilah Tohir untuk memperbaikinya. “Waktu itu saya yang disuruh menghubungi Haji Tohir Aditirto. Pada saat bertemu beliau, saya sempat bertanya cerita beliau saat berhaji. Dari sinilah terungkap adanya 3 mimbar buatannya yang dihadiahkan ke tiga masjid,” kenang Salim.
Sampai saat ini, ketiga mimbar kembar itu masih tetap dipakai. Disamping masih kokoh dan terawat baik, bentuk desainnya tidak ketinggalan jaman. Anda bisa melihatnya di Masjid Pondok Salafiyah Wonoyoso kelurahan Bumirejo Kebumen, Masjid Pondok Pesantren Miftahul Anwar Pekeyongan Podoluhur Klirong dan masjid lama desa Aditirto kecamatan Pejagoan. (Agus)
Sumber: NgapakNEWS.com.
Wednesday, December 26, 2012
Sejarah Berdirinya Kabupaten Kebumen
Asal mula nama Kebumen tidak lepas dari keberadaan tokoh KYAI PANGERAN BUMIDIRJA. Beliau adalah bangsawan ulama dari Mataram, adik Sultan Agung Hanyokro Kusumo. Ia dikenal sebagai penasihat raja, yang berani menyampaikan apa yang benar itu benar dan apa yang salah itu salah. Kyai P Bumidirjo sering memperingatkan raja bila sudah melanggar batas-batas keadilan dan kebenaran.
Ia berpegang pada prinsip : agar raja adil dan bijaksana. Disamping itu, ia sangat kasih dan sayang kepada rakyat kecil. Kyai P Bumidirjo memberanikan diri memperingatkan keponakannya, yaitu Sunan Amangkurat I. Karena sunan ini sudah melanggar paugeran keadilan dan bertindak keras dan kejam. Bahkan berkompromi dengan VOC (Belanda) dan memusuhi bangsawan ,ulama dan rakyatnya. Peringatan tersebut membuat kemarahan Sunan Amangkurat I dan direncanakan akan dibunuh, Karena menghalangi hukum qishos terhadap Kyai P Pekik dan keluarganya (mertuanya sendiri).
Untuk menghadapi situasi seperti itu, Kyai P Bumidirjo lebih baik pergi meloloskan diri dari kungkungan sunan Amangkurat I. Dalam perjalanan ia tidak memakai nama bangsawan, namun memakai nama Kyai Bumi saja. Dalam perjalananya Kyai P Bumidirjo sampai ke Panjer dan mendapat hadiah tanah di sebelah utara kelok sungai Lukulo pada tahun 1670. Pada tahun itu juga dibangun padepokan/pondok yang kemudian dikenal dengan nama daerah Ki bumi atau Ki-Bumi-An, menjadi KEBUMEN. Oleh karena itu bila lahirnya Kebumen diambil dari segi nama, maka versi Kyai Bumidirjo yang dapat dipakai dan mengingat latar belakang peristiwanya tanggal 26 Juni 1677. Berdasarkan bukti-bukti sejarah bahwa Kebumen berasal dari kata Bumi, nama sebutan bagi P Kyai Bumidirjo, mendapat awalan Ke dan akhiran an yang menyatakan tempat. Hal itu berarti Kabumen mula mula adalah tempat tinggal P Bumidirjo.
Di dalam perjalanan sejarah Indonesia pada saat dipegang Pemerintah Hindia Belanda telah terjadi pasang surut dalam pengadaan dan pelaksanaan belanja negara , keadaan demikian memuncak sampai klimaksnya sekitar tahun 1930. Salah satu perwujudan pengetatan anggaran belanja negara itu adalah penyederhanaan tata pemerintahan dengan penggabungan daerah-daerah Kabupaten (regentschaap) . Demikian pula halnya dengan Kabupaten Karanganyar dan Kebupaten Kebumen telah mengalami penggabungan menjadi satu daerah Kabupaten menjadi Kabupaten Kebumen. Surat keputusan tentang penggabungan kedua daerah ini tercatat dalam lembaran negara Hindia Belanda tahun 1935 nomor 629. Dengan ditetapkannya Surat Keputusan tersebut maka Surat Keputusan terdahulu tanggal 21 juli 1929 nomor 253 artikel nomor 121 yang berisi penetapan daerah kabupaten Kebumen dinyatakan dicabut atau tidak berlaku lagi. Ketetapan baru tersebut telah mendapat persetujuan Majelis Hindia Belanda dan Perwakilan Rakyat (Volksraad).
Sebagai akibat ditetapkannya Surat Keputusan tersebut maka luas wilayah Kabupaten Kebumen yang baru yaitu : Kutowingun, Ambal, Karanganyar dan Kebumen. Dengan demikian Surat Keputusan Gubernur Jendral De Jonge Nomor 3 tertanggal 31 Desember 1935 dan mulai berlaku tanggal 1 Januari 1936 dan sampai saat ini tidak berubah. Sampai sekarang Kabupaten Kebumen telah memiliki Tumenggung/Adipati/Bupati sudah sampai 29 kali.
Dikutip dari Kebumenkab
Ia berpegang pada prinsip : agar raja adil dan bijaksana. Disamping itu, ia sangat kasih dan sayang kepada rakyat kecil. Kyai P Bumidirjo memberanikan diri memperingatkan keponakannya, yaitu Sunan Amangkurat I. Karena sunan ini sudah melanggar paugeran keadilan dan bertindak keras dan kejam. Bahkan berkompromi dengan VOC (Belanda) dan memusuhi bangsawan ,ulama dan rakyatnya. Peringatan tersebut membuat kemarahan Sunan Amangkurat I dan direncanakan akan dibunuh, Karena menghalangi hukum qishos terhadap Kyai P Pekik dan keluarganya (mertuanya sendiri).
Untuk menghadapi situasi seperti itu, Kyai P Bumidirjo lebih baik pergi meloloskan diri dari kungkungan sunan Amangkurat I. Dalam perjalanan ia tidak memakai nama bangsawan, namun memakai nama Kyai Bumi saja. Dalam perjalananya Kyai P Bumidirjo sampai ke Panjer dan mendapat hadiah tanah di sebelah utara kelok sungai Lukulo pada tahun 1670. Pada tahun itu juga dibangun padepokan/pondok yang kemudian dikenal dengan nama daerah Ki bumi atau Ki-Bumi-An, menjadi KEBUMEN. Oleh karena itu bila lahirnya Kebumen diambil dari segi nama, maka versi Kyai Bumidirjo yang dapat dipakai dan mengingat latar belakang peristiwanya tanggal 26 Juni 1677. Berdasarkan bukti-bukti sejarah bahwa Kebumen berasal dari kata Bumi, nama sebutan bagi P Kyai Bumidirjo, mendapat awalan Ke dan akhiran an yang menyatakan tempat. Hal itu berarti Kabumen mula mula adalah tempat tinggal P Bumidirjo.
Di dalam perjalanan sejarah Indonesia pada saat dipegang Pemerintah Hindia Belanda telah terjadi pasang surut dalam pengadaan dan pelaksanaan belanja negara , keadaan demikian memuncak sampai klimaksnya sekitar tahun 1930. Salah satu perwujudan pengetatan anggaran belanja negara itu adalah penyederhanaan tata pemerintahan dengan penggabungan daerah-daerah Kabupaten (regentschaap) . Demikian pula halnya dengan Kabupaten Karanganyar dan Kebupaten Kebumen telah mengalami penggabungan menjadi satu daerah Kabupaten menjadi Kabupaten Kebumen. Surat keputusan tentang penggabungan kedua daerah ini tercatat dalam lembaran negara Hindia Belanda tahun 1935 nomor 629. Dengan ditetapkannya Surat Keputusan tersebut maka Surat Keputusan terdahulu tanggal 21 juli 1929 nomor 253 artikel nomor 121 yang berisi penetapan daerah kabupaten Kebumen dinyatakan dicabut atau tidak berlaku lagi. Ketetapan baru tersebut telah mendapat persetujuan Majelis Hindia Belanda dan Perwakilan Rakyat (Volksraad).
Sebagai akibat ditetapkannya Surat Keputusan tersebut maka luas wilayah Kabupaten Kebumen yang baru yaitu : Kutowingun, Ambal, Karanganyar dan Kebumen. Dengan demikian Surat Keputusan Gubernur Jendral De Jonge Nomor 3 tertanggal 31 Desember 1935 dan mulai berlaku tanggal 1 Januari 1936 dan sampai saat ini tidak berubah. Sampai sekarang Kabupaten Kebumen telah memiliki Tumenggung/Adipati/Bupati sudah sampai 29 kali.
Dikutip dari Kebumenkab
Mengenal fasilitas dan layanan di Taman Kota HM Sarbini Kebumen
Sejak diresmikannya taman kota HM Sarbini, saat ini pengelolaannya terus berbenah. Dalam rangka memenuhi kebutuhan rekreasi masyarakat. Sebagaimana lazimnya taman kota, maka taman kota ini tentunya diharapkan dapat berfungsi sebagai tempat untuk bersantai atau melakukan rekreasi bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa mengenal kelompok usia. Banyak anak-anak bermain dengan didampingi oleh orang tuanya, beberapa kelompok anak muda memanfaatkan gazebo untuk saling berbagi dan berinteraksi. Beberapa kelompok remaja lain memanfaatkan sarana hotspot area untuk mengakses internet atau bahkan ada yang hanya sekedar nongkrong saja. Terlebih di taman kota ini banyak fasilitas pendukung selain hotspot area, ada juga taman bermain dan sarana usaha berupa kios-kios yang menyediakan aneka ragam kebutuhan.
Satu lagi, hal yang menjadi kekhususan taman kota Kebumen ini adalah, fungsinya tidak hanya sekedar untuk bersantai, rekreasi semata. Namun unsur edukasi juga tidak dilupakan, dalam hal ini taman kota Kebumen ini menyediakan sarana pembelajaran bagi anak-anak khususnya terkait dengan upaya untuk meningkatkan kedisiplinan dan ketertiban lalu lintas.
Oleh karenanya taman kota Jenderal HM Sarbini, ada yang menyebutnya dengan Taman Lalu Lintas.
Peresmian taman kota ini sendiri telah dilakukan oleh orang nomor satu di Kebumen yaitu Buyar Winarso, SE pada tanggal 25 Mei 2012. Taman kota ini dibangun dengan dana dari APBD tahun 2011 sebesar 2,5 M dan ini adalah salah satu bentuk kepedulian pemerintah daerah setempat untuk menyediakan ruang terbuka hijau (RTH) yang sekaligus merupakan upaya untuk memenuhi harapan masyarakat kota Kebumen akan tempat yang bersih, segar, menyenangkan, aman dan nyaman. Hal ini tentunya sangat sesuai dengan slogan kota Kebumen yaitu BERIMAN (Bersih, Indah, Manfaat, Aman dan Nyaman ).
Ketika mencoba memasuki taman kota ini paling tidak akan menjumpai berbagai fasilitas dan pelayanan taman yang cukup memadai dan membuat nyaman. Berbagai fasilitas itu seperti:
- Layanan Parkir
- Layanan Satpam
- Layanan Petugas Kantin
- Konsultasi Tumbuh Kembang Anak
- Konsultasi Psikologi Anak (Analisa Sidik jari)
- Pintu Gerbang dan Pagar
- Tempat Parkir
- Gedung Kantor
- Mushola
- Kantin/kios pedagang
- Toilet dan WC
- Tempat pembuangan sampah
- Hot Spot Area (Wi Fi) Gratis koneksi internet
- Papan Informasi dan Koran dinding
- Gazebo besar (Aula terbuka) (30 orang duduk)
- Gazebo kecil (kapasitas 4 tempat duduk)
- Kursi taman permanen
- Papan display rambu lalu-lintas
- Lampu hias (terutama pada saat malam hari)
- Lampu penerang (terutama pada saat malam hari)
- Taman lalu lintas
- Patung Jenderal HM Sarbini
- Air mancur dan ikan hias
- Koleksi tanaman hias dan peneduh (50 jenis)
- Arena dan alat permainan anak: ayunan, peluncur
- Alat-alat permainan edukatif (APE)
Dari hasil wawancara kepada BumenMajuBersama selaku pengelola taman, diakui bahwa fasilitas yang ada ini akan terus di kembang-maksimalkan. BumenMajuBersama yang berlokasi tepat di sebelah timur Taman Kota, menyatakan fihaknya saat ini sedang melakukan pembenahan internal maupun eksternal. Internal, BumenMajuBersama sedang melakukan revitalisasi manajemen dan devisi pengelola taman kota. Secara eksternal, minggu ini sedang melakukan survei pengunjung. Upaya ini dilakukan untuk memperoleh masukan riil dari masyarakat langsung. Dari hasil sementara, beberapa fasilitas dan layanan yang menjadi masukan untuk dikembangkan diantaranya adalah:
- Denah lokasi taman
- Daftar Keterangan dari masing-masing jenis tanaman
- Forum terbuka (diskusi tematik) dengan narasumber yang terjadwal
- Penyelenggaraan Kursus (Bahasa, Seni Lukis, Tari, Out-Bond)
- Persewaan sepeda kecil, sepatu roda
- Pos Kesehatan
- Lomba-lomba yang terjadwal
- Diorama atau perpustakaan elektronik seputar sejarah kebumen
Berita dan gambar dari berbagai sumber
Jenderal HM Sarbini Tinggal di Desa Indrosari, Buluspesantren, Kab. Kebumen
Banyak tokoh-tokoh besar dan berjasa dalam perjuangan
Dalam masa perjuangan terutama 20 Oktober 1945 M Sarbini yang kala itu berpangkat letkol, memimpin pasukan tentara keamanan rakyat resimen kedu tengah dan menyerang serta mengepung tentara sekutu dan NICA di Desa Jambu Ambarawa yang kemudian dikenal dengan peristiwa Palagan Ambarawa.
Selama masa Pemerintahan Bung Karno Mayjend Sarbini menjabat sebagai menteri pertahanan dalam kabinet Dwikora II tahun 1966 yang kemudian digantikan oleh Letjen Soeharto. Untuk mengenang jasa-jasanya sekaligus sebagai wujud kebanggaan masyarakat Kabupaten Kebumen, saat ini tengah diusulkan pemberian gelar pahlawan nasional untuk jenderal HM Sarbini. Untuk itu Kepala Disnakertransos Kebumen Drs. Eko Widianto mengundang berbagai elemen, salah satunya HR. Soenarto, ketua letjen veteran Kebumen, Kasdim 0709 Kebumen serta dari Pepabri dan DHC 45 dan dinas terkait
Menurut warga desa Indrosari, Jendral Sarbini dulu pernah tinggal di desa Indrosari, Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen. Sekarang Untuk mengenang jasanya pemerintah RI mengabadikan namanya untuk nama
Sumber: BumenNews
Taman Kota "HM Sarbini" Kebumen, sebagai taman rekreasi segala umur
Ruang publik berupa taman kota akhirnya benar-benar terwujud di kota Kebumen. Setelah alun-alun Kebumen direnovasi dan dijadikan sebagai ruang publik, kini taman kota yang diberi nama Taman Kota Jenderal HM Sarbini hadir di kota tercinta ini. Bahkan taman kota ini telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat umum, mulai dari kalangan anak-anak, remaja hingga orang tua.
![]() |
| Taman Kota Sarbini di malam hari ( Foto : Ario M Sano) |
Peresmian taman kota ini sendiri telah dilakukan oleh orang nomor satu di Kebumen yaitu Buyar Winarso, SE pada tanggal 25 Mei 2012. Taman kota ini dibangun dengan dana dari APBD tahun 2011 sebesar 2,5 M dan ini adalah salah satu bentuk kepedulian pemerintah daerah setempat untuk menyediakan ruang terbuka hijau (RTH) yang sekaligus merupakan upaya untuk memenuhi harapan masyarakat kota Kebumen akan tempat yang bersih, segar, menyenangkan, aman dan nyaman. Hal ini tentunya sangat sesuai dengan slogan kota Kebumen yaitu BERIMAN ( Bersih, Indah, Manfaat, Aman dan Nyaman ).
Sebagaimana ditulis RasimunWay, maka taman kota ini berfungsi sebagai tempat untuk bersantai atau melakukan rekreasi bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa mengenal kelompok usia. Banyak anak-anak bermain dengan didampingi oleh orang tuanya, beberapa kelompok anak muda memanfaatkan gazebo untuk saling berbagi dan berinteraksi. Beberapa kelompok remaja lain memanfaatkan sarana hotspot area untuk mengakses internet atau bahkan ada yang hanya sekedar nongkrong saja. Terlebih di taman kota ini banyak fasilitas pendukung selain hotspot area, ada juga taman bermain dan sarana usaha berupa kios-kios yang menyediakan aneka ragam kebutuhan.
Satu lagi, hal yang menjadi kekhususan taman kota Kebumen ini adalah, fungsinya tidak hanya sekedar untuk bersantai, rekreasi semata. Namun unsur edukasi juga tidak dilupakan, dalam hal ini taman kota Kebumen ini menyediakan sarana pembelajaran bagi anak-anak khususnya terkait dengan upaya untuk meningkatkan kedisiplinan dan ketertiban lalu lintas. Oleh karenanya taman kota Jenderal HM Sarbini, ada yang menyebutnya dengan Taman Lalu Lintas.
Sumber pendukung :
- http://www.kebumenkab.go.id/index.php/public/potenda/detail/12
Taman Kota "HM Sarbini" Kebumen diresmikan
Impian Masyarakat Kebumen Untuk Memiliki Ruang Publik Berupa Taman Kota Akhirnya Terwujud Juga. Yaitu Dengan Dibangunnya Taman Kota Jenderal HM Sarbini Yang Berlokasi Di Jalan Ahmad Yani Kebumen. Pembangunan Taman Kota Juga Dipadukan Dengan Konsep Lalu Lintas, Dimana Terdapat Taman Lalu Lintas Sebagai Tempat Pembelajaran Tertib Lalu Lintas Bagi Anak-Anak Di Lokasi Tersebut .
Taman Kota Merupakan Salah Satu Upaya Untuk Memenuhi Harapan Masyarakat Perkotaan Kebumen Akan Tempat Yang Bersih, Segar, Menyenangkan, Aman Dan Nyaman. " Untuk Itu Saya Minta Masyarakat Selalu Menjaga Dan Memelihara Fasilitas-Fasilitas Tersebut Agar Berfungsi Dengan Baik " Ungkap Orang Nomer Satu Di Kebumen Tersebut. Lebih Lanjut Disampaikan Taman Kota Saat Ini Tidak Lagi Hanya Berfungsi Sebagai Ruang Terbuka, Namun Fungsinya Berkembang Menjadi Lebih Kompleks. Tidak Hanya Berfungsi Kesenangan Atau Rekreasi Semata Tetapai Juga Memiliki Fungsi Sosial, Pendidikan Lingkungan , Ekonomi Serta Fungsi Estetis . Begitu Pula Dengan Taman Kota Jenderal HM Sarbini Yang Memadukan Konsep Edukasi Dalam Bentuk Taman Lintas. Dari Taman Tersebut Diharapkan Bisa Menjadi Pembelajaran Bagi Masyarakat, Khususnya Anak-Anak Dalam Rangka Meningkatkan Kedisiplinan Dan Ketertiban Berlalu Lintas.
Adapun Berbagai Fasilitas Fisik Taman Kota &Rdquo;Jenderal HM. Sarbini&Rdquo; Di Antaranya Arena Bermain, Hotspot Area, Area Refleksi, Taman Lalu Lintas, Sarana Usaha (Kios) Maupun Fasilitas Pendukung Lainnya. Pembagunan Taman Kota Jenderal HM Sarbini Menggunakan Anggraan APBD Tahun 2011 Sebesar Rp 2,5 Milyar , Diatas Tanah Seluas 7.860 m2.
Sejarah Berdirinya Desa Kajoran, Karanggayam, Kab. Kebumen
Pada jaman dahulu kala Desa ini namanya Desa JurangJero yang
dikelilingi oleh pegunungan kecil, lalu datanglah seseorang yang pintar dan
sakti yaitu Mbah Agung dari Jogjakarta. Mbah Donosari atau dikenal Mbah Agung
atau Mbah Lugu beliau dikenal sebagai orang yang arif, bijak dan disegani oleh
masyarakat Desa Kajoran.
Mbah agung datang ke Desa Jurangjero karena suatu peristiwa yaitu Mbah Agung bermasalah dengan adiknya. Mbah agung adalah anak dari Surya Diningrat adiknya bernama Surya Negara. Mbah Agung disuruh mandi keramas dan minum air degan ijo (kelapa muda hijau) tetapi sudah diminum oleh adiknya. Mbah Agung adu kesaktian dengan adiknya lalu larilah beliau ke Desa Jurangjero karena untuk mencari kesaktian lagi (bertapa). Sebelum pergi ke Desa Jurangjero Mbah Agung berkata kepada adiknya “Runtemurun 7 (pitu) tedap 8 (wolu) yang jadi Ratu adalah Anakku” lalu pergilah ke Desa Jurangjero dan setelah lama di Desa Jurangjero Mbah Agung memperistri seorang wanita dari Desa Jurangjero sebagai selir, istri pertama yang dari Jogjakarta sedang mengandung dan adiknya Mbah Agung yang di Jogjakarta pun sudah beristri dan sama-sama sedang mengandung juga kemudian lahirlah anak Mbah Agung yang berasal dari Desa Jurang Jero seorang Putra tetapi namanya tidak diketahui, Istri dari adiknya Mbah Agung yang di Jogjakarta juga akan melahirkan tetapi mengalami kesulitan kemudian adik dari Mbah Agung pergi ke Desa Jurangjero menjemput Mbah Agung untuk membantu persalinan istrinya agar dapat melahirkan. Mbah Agung menyuruh seorang “Mbah Perempuan” sakti yang dalam sekejap saja bisa sampai di Jogjakarata, mbah perempuan tersebut disuruh Mbah Agung untuk membawa anak dari Mbah Agung untuk ditukarkan dengan bayi dari anak adiknya sehingga anak dari Mbah Agung berada di Jogjakarta dan anak dari adik Mbah Agung berada di Desa Jurang Jero.
Setelah Mbah Agung meninggal dunia dan dimakamkan di Pesarean Gede yang letaknya diantara Dukuh Kewao desa Kajoran dan Desa Karangtengah. Makam Mbah Agung oleh warga masyarakat sampai saat ini masih dieramatkan bahkan pada bulan-bulan tertentu banyak pendatang yang berziarah dan bermeditasi.
Semula Desa ini dinamakan desa Jurangjero dan Sejak berdirinya Masjid Kajoran pada tahun 1819 Desa Jurangjero diubah menjadi Desa Kajoran. Sebelum desa Jurangjero diubah menjadi Desa Kajoran datanglah seorang muslim yaitu Sunan Kalijaga untuk mengajarkan agama islam karena belum adanya tempat mengaji/beribadah maka Sunan Kalijaga membuat Suro/Masjid diDesa Jurangjero yang letaknya di Dukuh Kemojing namun sebelum masjid jadi sunan Kalijaga pulag ke Demak karena di Demak juga sedang membuat Masjid sesampainya di Demak disana ada sunan Giri, sunan Ampel dan Sunan Kalijaga pun ikut membantu membuat Masjid lau ditanyalah Sunan kalijaga oleh Sunan Giri sebagai berikut :
Sunan Giri : Dari mana Sunan Kalijaga ?
Sunan kalijaga : Dari Jurangjero
Sunan Giri : Ngapain disana ?
Sunan Kalijaga : Membuat Masjid...”
Sunan Giri : Jorjoran banget sih, orang disini belum jadi ko membuat disana”
Kemudian Sunan Kalijaga diberi kayu/lakar untuk dipahat namun pada waktu mengkapak kayu tersebut mengenai kepala “Orong-orong” (anjing tanah) sehingga putuslah kepalanya kemudian disambnglah kepala orong-orong tersebut dengan tatal kayu (pecahan kayu jati yang dipahat) sehingga menyatu dan orong-orong tersebut hidup kembali.
Setelah Masjid Demak tersebut jadi daerah tersebut diberi nama Desa Jorjoran oleh Sunan Giri yang kemudian oleh Sunan Kalijaga namanya disempurnakan menjadi Desa Kajoran sampai dengan sekarang setelah itu Sunan Kalijaga kembali ke Desa Jurangjero dan setelah itu Sunan Kalijaga memerintahkan/ memasrahkan kepada anaknya untuk mengajarkan ajaran-ajaran agama islam diMasjid Kajoran kemudian Sunan Kalijaga kembali lagi ke Demak.
Orang-orang yang meneruskan mengajarkan agama islam yaitu :
1. KH. Sanmurdi
2. KH. Mad Mustar
3. KH. Mad Dalyar Dullah Ikhsan
4. KH. Santa Wijaya
Ahirnya banyak orang yang mengaji di Masjid Kajoran dan mengenal agama Islam sampai sekarang ini.
Mbah agung datang ke Desa Jurangjero karena suatu peristiwa yaitu Mbah Agung bermasalah dengan adiknya. Mbah agung adalah anak dari Surya Diningrat adiknya bernama Surya Negara. Mbah Agung disuruh mandi keramas dan minum air degan ijo (kelapa muda hijau) tetapi sudah diminum oleh adiknya. Mbah Agung adu kesaktian dengan adiknya lalu larilah beliau ke Desa Jurangjero karena untuk mencari kesaktian lagi (bertapa). Sebelum pergi ke Desa Jurangjero Mbah Agung berkata kepada adiknya “Runtemurun 7 (pitu) tedap 8 (wolu) yang jadi Ratu adalah Anakku” lalu pergilah ke Desa Jurangjero dan setelah lama di Desa Jurangjero Mbah Agung memperistri seorang wanita dari Desa Jurangjero sebagai selir, istri pertama yang dari Jogjakarta sedang mengandung dan adiknya Mbah Agung yang di Jogjakarta pun sudah beristri dan sama-sama sedang mengandung juga kemudian lahirlah anak Mbah Agung yang berasal dari Desa Jurang Jero seorang Putra tetapi namanya tidak diketahui, Istri dari adiknya Mbah Agung yang di Jogjakarta juga akan melahirkan tetapi mengalami kesulitan kemudian adik dari Mbah Agung pergi ke Desa Jurangjero menjemput Mbah Agung untuk membantu persalinan istrinya agar dapat melahirkan. Mbah Agung menyuruh seorang “Mbah Perempuan” sakti yang dalam sekejap saja bisa sampai di Jogjakarata, mbah perempuan tersebut disuruh Mbah Agung untuk membawa anak dari Mbah Agung untuk ditukarkan dengan bayi dari anak adiknya sehingga anak dari Mbah Agung berada di Jogjakarta dan anak dari adik Mbah Agung berada di Desa Jurang Jero.
Setelah Mbah Agung meninggal dunia dan dimakamkan di Pesarean Gede yang letaknya diantara Dukuh Kewao desa Kajoran dan Desa Karangtengah. Makam Mbah Agung oleh warga masyarakat sampai saat ini masih dieramatkan bahkan pada bulan-bulan tertentu banyak pendatang yang berziarah dan bermeditasi.
Semula Desa ini dinamakan desa Jurangjero dan Sejak berdirinya Masjid Kajoran pada tahun 1819 Desa Jurangjero diubah menjadi Desa Kajoran. Sebelum desa Jurangjero diubah menjadi Desa Kajoran datanglah seorang muslim yaitu Sunan Kalijaga untuk mengajarkan agama islam karena belum adanya tempat mengaji/beribadah maka Sunan Kalijaga membuat Suro/Masjid diDesa Jurangjero yang letaknya di Dukuh Kemojing namun sebelum masjid jadi sunan Kalijaga pulag ke Demak karena di Demak juga sedang membuat Masjid sesampainya di Demak disana ada sunan Giri, sunan Ampel dan Sunan Kalijaga pun ikut membantu membuat Masjid lau ditanyalah Sunan kalijaga oleh Sunan Giri sebagai berikut :
Sunan Giri : Dari mana Sunan Kalijaga ?
Sunan kalijaga : Dari Jurangjero
Sunan Giri : Ngapain disana ?
Sunan Kalijaga : Membuat Masjid...”
Sunan Giri : Jorjoran banget sih, orang disini belum jadi ko membuat disana”
Kemudian Sunan Kalijaga diberi kayu/lakar untuk dipahat namun pada waktu mengkapak kayu tersebut mengenai kepala “Orong-orong” (anjing tanah) sehingga putuslah kepalanya kemudian disambnglah kepala orong-orong tersebut dengan tatal kayu (pecahan kayu jati yang dipahat) sehingga menyatu dan orong-orong tersebut hidup kembali.
Setelah Masjid Demak tersebut jadi daerah tersebut diberi nama Desa Jorjoran oleh Sunan Giri yang kemudian oleh Sunan Kalijaga namanya disempurnakan menjadi Desa Kajoran sampai dengan sekarang setelah itu Sunan Kalijaga kembali ke Desa Jurangjero dan setelah itu Sunan Kalijaga memerintahkan/ memasrahkan kepada anaknya untuk mengajarkan ajaran-ajaran agama islam diMasjid Kajoran kemudian Sunan Kalijaga kembali lagi ke Demak.
Orang-orang yang meneruskan mengajarkan agama islam yaitu :
1. KH. Sanmurdi
2. KH. Mad Mustar
3. KH. Mad Dalyar Dullah Ikhsan
4. KH. Santa Wijaya
Ahirnya banyak orang yang mengaji di Masjid Kajoran dan mengenal agama Islam sampai sekarang ini.
Sumber: Pemdes Kajoran
Subscribe to:
Posts (Atom)

