Showing posts with label kebumen. Show all posts
Showing posts with label kebumen. Show all posts

Tuesday, February 17, 2015

Badar Besi Kristal Hijau Kebumen Mirip Batu Bacan dan Hijau Garut

badarbesi-

Saat ini dikebumen terdapat batuan badar besi kristal yang hampir mirip dengan batu bacan dan hijau garut , Batu ini sangat unik karena selain kualitas kristalnya yang elegan batu ini juga nempel di magnet. Ini membuktikan bahwa batu ini benar-benar alami dan asli natural. jika terkena cahaya maka batu ini akan tembus / kristal ( hampir 80% ) sisanya terlihat bercak hitam yang memiliki kandungan besi didalamnya ,namun jika tidak terkena cahaya batu ini akan terlihat kehitaman  seperti pada keaslianya yang natural.
 Dalam satu bongkahan rough atau bahan pada batu Badar besi kristal hijau ini akan terdapat kualitas yang terbaik  yaitu terdapat pengkristalan yang lebih dominan atau plong ( hingga 80% ) namun tidak semua rough akan terdapat kualitas yang seperti ini , ini hanya terdapat tidak lebih dari 20% dari setiap bongkahan atau lempengan atau potongan Rough yang belum di gosok.
Sumber: Pusat batu

Berburu Batu Magnet di Gunung Badar Besi Kebumen

Daerah ini menjadi salah satu wilayah terbaik penghasil Badar Besi

VIVAnews - Fenomena batu akik memang tiada habisnya. Keunikannya menjadi daya tarik tersendiri bagi penggemarnya. Karena itu tak jarang, sekalipun itu harus diburu dengan harga mahal, batu ini tetap diburu untuk dikoleksi.

Salah satu jenis batu akik yang saat ini tengah menjadi buruan adalah Badar Besi. Batu yang dipercaya memiliki kandungan magnet dan didapat dengan menambang tersebut dikenal unik dan sulit untuk mendapatkannya. Karena itu harga batu ini pun menjadi tak murah.

Fenomena populernya batu tersebutlah yang kemudian melambungkan nama Kecamatan Karanggayam Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Sebab wilayah ini dikenal menjadi salah satu penghasil batu Badar Besi terbaik di Jawa Tengah.

Bagaimana tidak, daerah ini terdapat sebuah bukit yang dinamakan oleh warga setempat Bukit Bulu Beras, ternyata menjadi kawasan penghasil bahan akik untuk Badar Besi. Karena itu juga tidak sedikit warga yang menamakan bukit itu dengan sebutan Gunung Badar Besi.

Gunung ini terletak di perbatasan Desa Karangmojo dengan Desa Kalirejo, Kecamatan Karanggayam, atau sekira 25 kilometer dari Kota kebumen. Jarak lokasi penambangan Badar Besi dari perumahan penduduk sekira 500 meter dan hanya dapat dilalui dengan kendaraan bermotor. Di antara pohon pinus banyak terlihat gundukan batu berukuran raksasa.

Suparno, salah seorang penambang batu setempat, mengaku sudah 19 tahun menambang batu di wilayah itu.  "Bukit Bulu Beras merupakan gudangnya batuan jenis badar besi. Dengan harga jual per kilo Rp100 ribu, membuat warga banyak yang melakukan penambangan disini," ujarnya.

Ekspor ke Korea
Dengan naik daunnya nama Badar Besi, tentu saja memberikan efek positif kepada para perajin. Sebab, tingginya permintaan pasar tak jarang membuat perajin kewalahan memenuhi permintaan.

Seperti diakui Kosim, 42 tahun,  pemilik workshop batu akik di Karanganyar ini mengaku kerepotan memenuhi permintaan pembeli. Dalam sehari, kata dia, rata-rata terjual  sebanyak 15 buah. Harganya pun bervariatif tergantung ukuran dan corak, mulai dari Rp250 ribu hingga Rp500 ribu per kilogram.

"Kini saya kewalahan melayani pesanan batu akik jenis Badar Besi, karena mulai langkanya bahan. Pesanan partai besar datang dari Korea. Setiap bulannya kami mengirim Badar Besi ke Korea seberat 10 kuintal," kata Kosim.

Sejauh ini, ia mengaku yang menjadi salah satu andalan batu Badar Besi yang baru didapat kosim adalah jenis batu Badar Besi Kodok Ijo, karena bentuk batu ini mirip sekali dengan hewan kodok. Batu inipun sudah ditawar orang Rp50 juta.  Namun, karena kelangkaan jenis ini, Kosim belum menjualnya.

Untuk itu, bagi anda para pecinta batu jenis badar besi, untuk menghilangkan rasa penasaran anda datang saja ke Gunung Badar Besi, yang terletak di sebelah utara Kebumen, Jawa tengah.
Wahyu Kurniawan/Kebumen/TVOne
Sumber: viva.co.id

Berbagai Jenis Batu Akik Badar Besi



Sementara orang berpendapat bahwa batu akik badar besi yang terkenal adalah badar besi yang berwarna hitam. Tetapi sebenarnya batu akik ini banyak jenisnya, paling tidak ada sepuluh jenis, yaitu: badar besi luk-ulo kebumen, badar besi hijau, badar besi super bloodstone hematite, badar besi pyrus, badar besi hitam, badar besi umpak mataram, badar besi tapak jalak, badar besi hitam urat perak, badar besi merah dan badar besi kristal hijau.
     

Badar besi kristal ijo Kebumen


Batu akik yang mempunyai kekuatan magnetis ini lebih banyak diketemukan di Aceh dan Sumatera Utara berwarna/corak Hitam, Hijau Lumut dan Hitam Metalik bahkan lurik-lurik yang sangat bercahaya. Selain itu, daerah Ambon juga sangat banyak dengan warna Abu-Abu, Coklat dan bergambar pemandangan alami bahkan ada yang menyerupai jenis-jenis hewan. 
Batu badar besi disebut batu magnetsteen sebab apabila didekatkan pada magnet batu tersebut akan tertarik dan menempel atau hanya berputar-putar dan lainnya ada yang menolak dengan bergetar ditempat saja.

Mengenal Batu Akik Badar Besi

Batu Akik Badar Besi ini mengandung unsur besi (fe) dengan kandengan oksigen yang tinggi sehingga memiliki warna abu-abu kehitaman. Batu ini memiliki nilai kekerasan 5-6 skala mohs.  Batu akik badar besi banyak ditemukan di wilayah Brazil, Mexiko, Australia dan amerika. Wilayah ini notabene dekat dengan wilayah pegunungan yang sering terjadi banjir lahar beratus-ratus tahun yang lalu. Batu ini juga di temukan di wilayah Indonesia. Di Indonesia banyak di jumpai di banyak daerah, seperti Kabupaten Kebumen-sebagai salah satu wilayah penghasil badar besi terbaik. Di kabupaten Kebumen banyak dijumpai di daerah Karanggayam, Sadang  dan Karangsambung atau di sepanjang sungai luk-ulo.

Memiliki struktur mirip batu Ruby
Batu akik badar besi (Hematite) disebut juga batu magnetsteen karena apabila di dekatkan dengan  magnet batu ini akan tertarik dan menempel atau berputar-putar dan ada juga yang menolak dengan bergetar ditempat saja. Batu ini bisa mengeluarkan efek mengkilat seperti besi jika dogosok/diasah.Batu akik badar besi memiliki struktur kristal yang sama dengan batu corundum (ruby), selain terdapat di Bumi , batu sejenis yang memiliki unsur Hematite dengan kandungan Fe yang cukup dominan juga di temukan di Planet Mars. Bebatuan Hematite ini ditemukan berbentuk gunung dan bukan terpendam di bawah lapisan tanah seperti di planet Bumi. Demikian seperti Informasi yang  didapat dari The Mars Exploration Microscopic.

Banyak dipalsukan
Batu akik badar besi oleh beberapa orang dianggap kurang cocok digunakan sebagai perhiasan, karena warnanya yang terlalu gelap dan kurang menarik. Namun banyak orangjustru tertarik dengan keunikan  dari batu ini. Karena keunikan batu ini,  banyak orang-orang yang tidak bertanggung jawab memalsukan batu akik badar besi ini. Untuk itu kita harus berhati-hati dalam membeli jenis batu ini. 
Untuk menguji keaslian daripada batu ini ada beberapa cara yang sering digunakan yaitu:  (1) Pastinya jika batu akik badar besi ini di dekatkan dengan magnet batu tersebut akan tertarik dan menempel pada magnet (2) Cara kedua yaitu ambil buah pepaya muda cari getahnya lalu oleskan pada batu badar besi tersebut,. Apabila getah buah pepaya tersebut cepat mengering maka batu ini asli

(Dari berbagai sumber)


Thursday, October 17, 2013

Sejarah Berdirinya Desa Karanggadung Kec. Petanahan Kab. Kebumen

Legenda Desa
Pada masa kepemimpinan Kanjeng Susuhunan Sayidin Panotogomo yang memerintah pada tahun 1601 Kerajaan Mataram menguasai wilayah brang wetan dan brang kulon ( bahasa Jawa sebelah barat dan sebelah timur ) diantaranya Kadipaten Pucang Kembar yang dipimpin oleh Hadipati Citro Kusumo , Kadipaten Bulupitu di pimpin oleh Jaka Puring dan Kadipaten Karang Gumelem . Dalam cerita ini yang menjadi lakon adalah sebagian dari wilayah brang kulon .

Pada waktu itu Hadipati Pucang Kembar mempunyai putri yang cantik jelita bernama Dewi Sulastri . Hadipati Bulupitu Raden Jaka Puring terkenal sakti mandraguna tetapi belum punya istri dan dia menderita cacat yaitu bibirnya tebal sebelah ( istilah Jawa mengrot ) dan kakinya pincang , mendengar bahwa di Kadipaten Pucang Kembar ada seorang putri cantik anak dari Hadipati Citro Kusumo maka Jaka puring ingin membuktikan dan bermaksud mempersuntingnya sebagai istri .

Setelah Raden Jaka Puring melihat kecantikan Dewi Sulastri ia lalu melamarnya namun belum diterima atau masih ditangguhkan karena Jaka Puring adalah seorang pemuda yang cacat maka ia disuruh menunggu dan dipersilahkan untuk tinggal sementara di Pucang Kembar.
Tidak lama kemudian datanglah seorang pemuda tampan dari Kadipaten Karang Gumelem bernama Raden Jono yang bermaksud hendak melamar pekerjaan di Kadipaten Pucang Kembar sambil mencari saudara kandungnya yang bernama Raden Wiro Kusumo , namun Sang Hadipati Citro Kusumo bingung karena tidak ada pekerjaan untuk Raden Jono bersamaan dengan itu putri Sang Hadipati Citro Kusumo yaitu Dewi Sulastri melihat pemuda tampan itu maka tertarik hatinya dan mengajukan usul kepada Kanjeng Romonya ( bahasa Jawa Ayah ) agar Raden Jono diterima bekerja di Kadipaten Pucang Kembar . Akhirnya Sang Hadipati menerima Raden Jono sebagai juru taman di Kaputren Dewi Sulastri . Karena sering bertemu antara Raden Jono dan Dewi Sulastri saling jatuh cinta ( Pepatah Jawa mengatakan , ” Witeng Tresno Jalaran Soko Kulino ” ).

Sementara dalam penantiannya Raden Jaka Puring sudah jemu menunggu jawaban dari Dewi Sulastri . Ia merasa curiga dengan hubungan Dewi Sulastri dan Raden Jono maka sambil menunggu jawaban dari Dewi Sulastri , Raden Jaka Puring menyuruh Pangeran Usmono Usmani ( adik Dewi Sulastri ) untuk mengawasi gerak-gerik Dewi Sulastri dan Raden Jono . Berdasarkan pengamatannya , Pangeran Usmono Usmani melaporkan bahwa Dewi Sulastri telah menjalin cinta dengan Raden Jono . Mendengar laporan itu Raden Jaka Puring merasa tersinggung dan mengambil kesimpulan bahwa dirinya ditolak karena Dewi Sulastri berpacaran dengan Raden Jono . Jaka Puring marah dan terjadilah perang antara Raden Jono dan Raden Jaka Puring .

Singkat cerita pertempuran yang tidak seimbang itu membuat Raden Jono kalah dan lari mencari perlindungan ke Pesanggrahan Pring Ori ( kelak bernama Desa Ori di wilayah Kecamatan Kuwarasan ) . Raden Jono minta perlindungan pada Kyai Karyadi dan disuruh sembunyi di dalam lumbung dan di tutup pakai kapuk ( kapas ) , tidak lama kemudian Raden Jaka Puring sowan pada Kyai Karyadi dan menanyakan keberadaan Raden Jono namun sang Kyai membohonginya dan mengatakan bahwa Raden Jono tidak berada di pesanggrahan Pringori . Jaka Puring lalu pulang kembali ke Kadipaten Bulu Pitu

Setelah Jaka Puring pergi maka Raden Jono dikeluarkan dari lumbung dan ditanya apa sebabnya Raden Jono dikejar-kejar oleh Raden Jaka Puring . Raden Jono menceritakan pada Kyai bahwa perjalanannya ke Pucang Kembar untuk melamar pekerjaan sambil mencari saudara kandungnya Pangeran Wiro Kusumo setelah tiba di Pucang Kembar diterima sebagai juru taman dan dicintai oleh Dewi Sulastri sementara Raden Jaka Puring yang sedang menunggu jawaban dari Dewi Sulastri atas lamarannya yang sesungguhnya ditolak karena Raden Jaka Puring menderita cacat , namun karena tidak tega untuk mengatakan alasan yang sebenarnya maka lamaran atas Dewi Sulastri hanya ditangguhkan jawabannya dan dipersilahkan untuk tinggal sementara di Kadipaten Pucang Kembar sembari menunggu jawaban dari Dewi Sulastri . Tapi karena Dewi Sulastri talah jatuh cinta kepada Raden Jono akhirnya Raden Jaka Puring cemburu dan terjadi pertarungan antara Raden Jono dan Raden Jaka Puring sampai akhirnya Raden Jono kalah dan lari ke Pesanggrahan Pring Ori untuk menimba ilmu di pesanggrahan sehingga bisa mengalahkan Raden Jaka Puring dan memperisteri Dewi Sulastri .

Mendengar jawaban dari Raden Jono sang kyai memberi saran . Untuk mencapai tujuannya Raden Jono harus bersemedi ( bertapa ) di bawah pohon besar bernama Wit Benda ( Pohon Benda : bahasa Jawa ) dan pohon itu berada di daerah yang angker namun dalam melakukan semedi itu harus dengan hati yang tulus , suci dan sabar .
Raden Jono pun menurut pada kata-kata Kyai Karyadi ia pun melakukan semedi dengan sabar dan hati yang tulus dan akhirnya pertapaannya mendapatkan hasil dari yang Maha Kuasa dengan memperoleh pusaka berupa Bungkul Kencana ( keris : bahasa Jawa ) . Dan akhirnya Raden Jono pulang ke Pucang Kembar bertemu dengan Dewi Sulastri dan ternyata Raden Jaka Puring sudah berada di Pucang Kembar untuk menanyakan jawaban Dewi Sulastri atas lamarannya . Dewi Sulastri menjawab bahwa dia mau dipersunting oleh siapapun namun ia punya bebana awujud adon-adon / giri patembaya ( bahasa jawa permintaan pertarungan ) antara Raden Jono dan Jaka Puring . Maka terjadilah pertarungan sengit antar keduanya yang dimenangkan oleh Raden Jono maka dikawinkanlah Dewi Sulastri dengan Raden Jono sedang Raden Jaka Puring Lari dan pulang ke Bulu Pitu .

Bersamaan dengan itu Hadipati Pucang Kembar mendapat surat mandat ( nawala ) dari Susuhunan Sayidin Panatagama ( Raja Mataram ) untuk memberantas gerombolan berandal di Gunung Tidar. Akhirnya Hadipati Pucang Kembar Citro Kusumo memerintahkan menantunya sebagai bukti pengabdiannya untuk memberantas berandal di Gunung Tidar atau sebagai Duta Pamungkas. Maka walupun dengan perasaan berat meninggalkan Dewi Sulastri Raden Jono berangkat menjalankan tugas sebagai Duta Pamungkas dari Susuhunan Sayidin Panatagama ( Raja Mataram ) ke Gunung Tidar sebagai bukti pengabdian kepada mertua dan negara . Mendengar berita bahwa Raden Jono diberi mandat untuk menjadi Duta Pamungkas Raden Jaka Puring yakin bahwa Raden Jono pasti gugur melawan gerombolan berandal di Gunung Tidar maka Raden jaka Puring menuju ke Pucang Kembar untuk menemui dan merebut Dewi Sulastri .

Dalam keadaan Dewi Sulastri sendiri tanpa suami dipaksa oleh Raden Jaka Puring untuk mengikuti kemauan Raden Jaka Puring menjadi istrinya . Sebagai seorang istri yang setia kepada suami Dewi Sulastri tidak mau menghianati Raden Jono maka akhirnya Raden Jaka Puring membawa lari dengan paksa Dewi Sulastri keluar dari kaputren . Sementara itu Raden Jono sampai di Gunung Tidar menjelang malam dan menunggu munculnya gerombolan berandal . Setelah malam datang akhirnya gerombolan pengacau itu muncul dan bertarunglah Raden Jono melawan gerombolan yang terkenal bengis dan sakti mandraguna namun dengan kesaktian dan niat suci pengabdiannya kepada negara dan orang tua serta berbekal Pusaka Bungkul Kencana akhirnya Raden Jono bisa mengalahkan gerombolan berandal itu dan membunuh pimpinannya dengan Bungkul Kencana . Dalam keadaan keris terhunus diperut pimpinan gerombolan itu menyebut-nyebut nama saudara kandungnya ,” Aduh , Dimas Jono dimanakah keberadaanmu lihatlah Kangmasmu ini sedang sekarat dan jauh dari saudara ”. Mendengar rintihan itu Raden Jono tersentak dan menjawab perkataan dari pimpinan gerombolan itu yang ternyat saudara kandung yang selama ini dicarinya ,” Aduh Kakangmas maafkan adikmu ini yang hanya menjalankan tugas dan ternyata yang kubunuh adalah Kangmas Wiro Kusumo , maafkan adikmu ini yang tidak tahu bahwa yang akan kubunuh adalah Kangmas Wiro Kusumo ”.
Raden Jono memeluk Raden Wiro Kusumo yang sedang sekarat dan keduanya saling bertangisan sambil bermaafan akhirnya Raden Wiro Kusumo tewas di pangkuan Raden Jono .
Betapa sedihnya perasaan Raden Jono memikirkan garis hidupnya yang harus melaksanakan tugas negara dengan meninggalkan istri tercinta dan ternyata harus membunuh kakak kandungnya sendiri .

Raden Jono pun pulang ke Pucang Kembar membawa kemenangan berselimut kesedihan karena harus mengorbankan nyawa saudara kandungnya yang selama ini sedang dicarinya demi pengabdiannya kepada mertua dan negara. Sesampai di Pucang Kembar semakin terguncang perasaan Raden Jono mendapati Dewi Sulastri telah dibawa lari oleh Raden Jaka Puring . Dalam keadaan lelah dan terguncang Raden Jono pun mengembara mencari keberadaan Dewi Sulastri menjelajah setiap wilayah sampai akhirnya tiba di pesisir selatan .

Sementara itu pelarian Raden Jaka Puring membawa Dewi Sulastri juga ke pesisir selatan . Sepanjang perjalanan Raden Jaka Puring senantiasa merayu Dewi Sulastri agar bersedia malayaninya namun rasa cinta dan kesetiaannya kepada Raden Jono tetap dipegang teguh oleh Dewi Sulastri sampai akhirnya Raden Jaka Puring kehilangan kesabarannya dan akhirnya Dewi Sulastri diikat pada sebuah pohon pandan .

Bersamaan dengan itu perjalanan Raden Jono sudah sampai di tempat itu namun sebelum ia bertemu dengan Dewi Sulastri ternyata Raden Jaka Puring telah lebih dulu melihat kedatangannya . Dengan sekonyong- konyong Raden Jaka Puring menyerangnya sehingga terjadi pertempuran yang sengit antara Raden Jono melawan Raden Jaka Puring . Dalam pertempuran itu Raden Jaka Puring terdesak dan kalah lalu melarikan diri ke arah utara . Raden Jono lalu menemui Dewi Sulastri yang masih terikat di pohon pandan . Terjadi suatu keajaiban bahwa pohon pandan tempat mengikat Dewi Sulastri berubah warna menjadi kuning sedang pohon pandan yang lain tetap berwarna hijau . Maka oleh Raden Jono tempat itu diberi nama Pandan Kuning ( kelak menjadi Pesanggrahan Pandan Kuning ).

Keajaiban kembali terjadi , setelah Raden Jono melepas ikatan Dewi Sulastri mereka lalu ditemui oleh Nyi Roro Kidul ( Ratu Pantai Selatan ) dan bidadari dari kayangan Dewi Nawang Wulan . Oleh Nyi Roro Kidul Dewi Sulastri disuruh pulang ke Pucang Kembar dengan perlindungan dari Nyi Roro Kidul dan Dewi Nawang Wulan . Sedang Raden Jono disuruh mengejar raden Jaka Puring ke arah utara . Perjalanan Raden Jono mengejar Raden Jaka Puring ke arah utara masuk ke sebuah hutan lebat yang banyak ditumbuhi pohon gadung penuh duri sebagai tempat persembunyian Raden Jaka Puring .
Disetiap langkahnya Raden Jono kesrimpet-srimpet wit gadung ( bahasa Jawa terhalang pohon gadung ) hampir di setiap pori-pori kulitnya terselip duri gadung hingga darah bercucuran maka alas atau hutan itu oleh Raden Jono dinamakan Karanggadung ( kelak menjadi desa Karanggadung ) .
Pelarian Raden Jaka Puring terus ke arah utara namun Raden Jono kehilangan jejak maka langkahnya menjadi ragu-ragu selangkah berhenti lalu melangkah lagi dan berhenti lagi sambil dia menengok mau terus ke utara atau ke selatan atau ke barat atau ke timur . Langkahnya yang mandeg mangu ( ragu-ragu ) itu membuat Raden Jono memberi nama tempat dengan nama ” Manga-mangu ” yang artinya perasaan ragu-ragu ( kelak menjadi desa Munggu ) . Namun akhirnya raden Jono memutuskan untuk mengejar ke arah utara sehingga mereka bertemu dan kembali terjadi pertarungan antar keduanya dan masing-masing membuat benteng pertahanan ( kelak dikenal sebagai ” Beteng ” dan ” Pertahanan ” ) dalam perkembangannya wilayah itu bernama Petanahan / kelak menjadi desa
Petanahan dan bekas bentengnya terkenal dengan nama ” Beteng ” .
Mereka terus bertarung sambil kejar-kejaran hingga sampai pada suatu tempat merasa kehausan dan hendak minum namun airnya berbau banger ( bahasa Jawa busuk ) yang konon dikarenakan bangkai manusia yang mati dan tidak dikubur dengan keajaiban hidup kembali ( pada urip , berasal dari bahasa Jawa ) dan tempat itu diberi nama Grumbul Banger Desa Padaurip ( kelak menjadi desa Padaurip ) .

Aksi kejar-kejaran itu terus ke arah utara sampai pada suatu tempat yang banyak ditumbuhi pohon Jati dan kehidupan masyarakatnya mulya ( sejahtera ) sehingga tempat itu dinamai Jatimulya ( kelak menjadi desa Jatimulya ) .
Kejar - kejaran dan pertarungan itu terus berlanjut ke utara sampai pada tempat / pekarangan yang banyak ditumbuhi wit gedang ( bahasa jawa pohon pisang ) lalu tempat itu diberi nama Karanggedang ( kelak menjadi Desa Karanggedang ) .

Dari Karanggedang mereka berlari kearah barat melewati sebuah sungai yang ditepi sungai itu banyak orang sedang memandikan (guyang ) hewan sehinga tempat itu dinamakan Guyangan.
Pengejaran dan pertarungan masih terus berlanjut kearah barat melewati sebuah grumbul atau alas yang berupa rumput alang- lang yang luas maka tepat itu diberi nama ” Alang – alang amba ” Kelak menjadi Desa Alang – alang Amba .

Pengejaran dan pertarunganpun terus berlanjut kearah selatan dalam keadaan sangat letih dan lemah mereka masih bisa bertahan hidup maka tempat itu diberi nama ” Kuwarasan ”. Merekapun terus bertarung dan saling mengejar menuju arah selatan sampai mereka berdua merasa kesal sendiri dan muring – muring ( bahasa Jawa marah –marah ) sambil istirahat Raden Jono memberi nama tempat itu ”Puring ”( Kelak menjadi pasar Puring ) .Walaupun dalam keadaan lelah dan letih Jaka Puring masih terus berusaha lari dan mencari hidup dan terus berlari ke selatan sampai di kisik / pesisir samudra yang tanahnya wedi ( bahasa jawa pasir ) yang setiap dilewati atau sepanjang kaki melangkah wedinya gugur alias ambruk maka tempat itu diberi nama ” Wedi Gugur ” kelak menjadi Pesanggrahan Wedi Gugur.

Raden Jaka Puring terus berusaha menghindar dari kejaran Raden Jono menuju kearah barat sampai akhirnya terjadi pertarungan lagi yang sangat sengit dan saling mengeluarkan kadigdayan ( kekuatan ) dan Raden Jaka Puring tersungkur sehingga tangan yang hendak diarahkan ke Raden Jono akhirnya mengenai karang sampai tembus / bolong sehingga tempat itu diberi nama Karangbolong , namun Raden Jaka Puring masih berusaha lari ke utara sampai akhirnya kehabisan tenaga sehingga tergelincir ke sungai dan pada kesempatan itu Raden Jono menghunus pusaka Bungkul Kencono dan menancapkanya ke tubuh Raden Jaka Puring dan terjadilah suatu keajaiban Raden Joko Puring berubah menjadi Buaya putih dan melontarkan sumpah serapah kepada Raden Jono bahwa dia menerima kekalahanya tidak bisa memperistri Dewi Sulastri dan menerima karma menjadi buaya putih namun bersumpah bahwa setiap keturunan Raden Jono yang memakai pakaian sama dengan yang dipakai oleh Dewi Sulastri akan menjadi mangsa / dimakan oleh buaya putih, Pakaian itu adalah mbayak ijo gadung ( Kebayak ), Jarit Amba Lurik ( Kain / tapih ) dan benting tritik ( stagen ). Atas kejadian itu oleh Raden Jono tempat itu diberi nama ”Buayan” kelak menjadi Kecamatan Buayan.

Dengan rasa letih dan tubuh yang penuh luka Raden Jono Pulang ke Pucang Kembar membawa perasaan suka cita atas kemenangannya melawan Raden Joko Puring dan perasaan rindu ingin segera bertemu Dewi Sulastri . Suasana penuh haru meliputi Kadipaten Pucang Kembar saat pertemuan antara Raden Jono dan Dewi Sulastri beserta keluarga kadipaten. Akhirnya Raden Jono di nobatkan sebagai Hadipati di Pucang Kembar.

Sumber: Dokumen Pemerintahan Desa Karanggadung

Sejarah Masjid Agung Kebumen, Soko Gurunya dibuat dalam Semalam




Pendiri Masjid Agung Kauman Kebumen
Konon Masjid Agung Kauman Kebumen didirikan pada Tahun 1832 M dengan soko gurunya dibuat dakam semalam. Keberadaanya tidak bisa dilepaskan dari sosok KH. Imanadi, putra Kyai Nurmadin atau Pangeran Nurudin bin Pangeran abdurrahman alias Kyai Marbut Roworejo. Dialah pendiri Masjid Agung Kebumen yang kini sudah berumur 176 tahun. Makam ulama yang diyakini hidup antara tahun 1775-1850 M itu berada di Dusun Pesucen, Desa Wonosari, Kebumen.

Belum ada referensi tertulis yang bisa dijadikan rujukan untuk menyingkap sejarah berdirinya Masjid Agung Kauman Kebumen. Sumber yang bisa dijadikan patokah adalah cerita lisan turun temurun, termasuk dari keturunan K.H. Imanadi yang masih hidup.

K.H. Imanadi merupakan salah satu punggawa Pangeran Diponegoro yang gigih melawan penjajah. Dia diyakini sebagai seorang ahli Fiqih dan hukum ketatanegaraan. Adipati Arumbinang ke-IV yang menjadi penguasa Kebumen saat itu berkenan mengeluarkan K.H. Imanadi dari penjara karena menjadi tahanan politik Belanda. Arumbinang IV konon mendapat wangsit jika ingin kuat maka harus menemui dan bekerja sama dengan K.H. Imanadi. Bahkan K.H. Imanadi diangkat menjadi Penghulu Landrat atau Kepala Depag dan Pengadilan Agama pertama di Kebumen.

Salah satu keturunan ke-6 K.H. Imanadi, M. Sudjangi menuturkan, saat perang Diponegoro (1825-1830), K. H. Imanadi yang paling gigih menentang Belanda. Saat itu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat telah dikuasai Belanda. Penjajah tersebut mengangkat adik Pangeran Diponegoro menjadi Hamengkubowono ke-IV (1814-1822 M). Padahal mestinya Pangeran Diponegoro yang berhak menjadi Sultan.

Kegigihan Imanadi yang pernah bermukim di Mekkah sekaligus menunaikan ibadah haji melanjutkan perjuangan ayahnya K. Nurmadin dan kakeknya Pangeran Abdurrahman atau K. Marbut. K. Marbut diyakini saudara kandung Pangeran Diponegoro yang juga putra kandung Hamengkubuwono ke-3.
Saat itu, Pangeran Abdurrahman diperimtah Keraton Ngayogyakarta untuk mencari kakak kandungnya yakni Kyai Mursid yang pergi entah kemana. Dia kontra dengan Keraton yang telah dikuasai Belanda. Singkat cerita, Pangeran Abdurrahman bertemu dengan Kyai Mursid di tempat lain yang sekarang dinamai desa Roworejo.

Kondisi Bangunan Masjid
Masjid kebanggaan masyarakat Kebumen ini dapat dikatakan besar, sebab ukuran bangunannya sendiri berukuran panjang kurang lebih 50 meter dan lebarnya kurang lebih 25 meter. Masjid ini memiliki dua lantai. Pada lantai bawah terdapat 2 buah bedug dengan ukuran berbeda, yang pertama seperti pada umumnya, sedangkan yang kedua dengan ukuran yang besar, yakni dengna ukuran sebagai berikut :

Bedug Ijo Mangun Sari
Dibuat                       :     Tanggal 15 Sya’ban 1422 H
Ukuran                      :     – p = 260 cm   – d = 160 cm
- k = 500 cm    – d bagian tengah = 180 cm
Jumlah paku           :    108 biji
Bahan                         :    kayu waru

Mengenal ruangan masjid
Pada bagian serambi terdapat kurang lebih 36 tiang sebagai penyangga atap masjid, sedangkan di bagian ruang utama masjid terdapat kurang lebih 19 tiang dengan 8 diantaranya sebagai tiang yang pokok. Pada ruang utama masjid juga terdapat hiasan dinding berupa kaligrafi yang semakin membuat masjid ini tampak begitu indah dipandang dan terasa suasana timur tengah. Sementera itu, di bagian depan terdapat dua buah jam, yaitu sebuah jam Istiwa sebagai penunjuk waktu sholat dan sebuah jam sebagai penunjuk waktu WIB.

Sebagai sarana pendukung kegiatan sholat Jum’at dan sholat Idul Fitri serta Idul Adha, di dalam Masjid Agung terdapat sebuah mimbar sebagai tempat khotbah yang berdiri dengan karpet berwarna biru yang indah dan berukiran kaligrafi.
Suci dari hadas dan najis merupakan bagian dari syarat sahnya sholat, sehingga seperti masjid pada umumnya, masjid ini juga dilengkapi dengan sarana  tempat untuk berwudhu.

Masjid Agung ini juga dilengkapi dengan sebuah Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) yang didirikan sejak tahun 1996 M. Di TPQ ini juga diadakan kegiatan pembinaan tilawatil Qur’an.
Untuk mengembangkan wawasan ilmu para santri, di TPQ ini juga dilengkapi dengan ruang perpustakaan yang di dalamnya terdapat berbagai macam buku bacaaan.

Sumber:AnakBumen dan  Suara Merdeka
 

Sejarah Berdirinya Desa Peniron, Kec. Pejagoan, Kab. Kebumen

Peniron masa lampau adalah sebuah belantara dilembah Luk Ulo. Konon yang membuka hutan dan menjadikan daerah pemukiman adalah seorang ulama / kesatria bernama Eyang Rohmanudin alias Mbah Kuwu. Sayangnya, sampai akhir hayatnya Eyang Rohmanudin tidak mempunyai keturunan. Jasadnya dimakamkan di Pemakaman Istana Gede, di dukuh Krajan Peniron. Di pemakaman umum ini, banyak dimakamkan tokoh-tokoh pendahulu Peniron seperti Eyang Rohmanudin, Mbah Kalipancur, Mbah Udadiwangsa dan Mbah Samikarya.

Menyebut sejarah, cerita Peniron tak lepas dari sejarah berdirinya kota Kebumen/Kebumian/Kabumian. Pada saat Ki Bumi, seorang Senopati dari Mataram membuka desa di lembah Luk Ulo sehingga dinamakan Ki-Bumi-an atau Ke-Bumi-an atau sekarang menjadi Kebumen, seorang pengikutnya yaitu Ki Bodroyudo/Eyang Bodroyudo tinggal di Peniron.

Disamping beliau, sejarah Peniron juga mencatat pejuang-pejuang yang lain seperti Eyang Kuntiri, Eyang Ragil, Eyang Nayawedana sang penakluk jin dan membuka hutan menjadi daerah Kebokuning, serta Eyang Drapaita alias Mbah Kalipancur yang dengan menancapkan keris dan keluar air sehingga daerah Kalipancur terdapat mata air yang tak pernah kering. Pejuang Peniron lainnya adalah Eyang Canakrom dan Eyang Guna Wijaya atau Eyang Astaguna atau Mbah Watupecah, seorang empu yang selalu mandi menggunakan api.

Masih banyak lagi tokoh-tokoh dalam sejarah Peniron, tetapi yang mengherankan beberapa sumber sejarah tidak mau bercerita secara detail bahkan menutup diri untuk membuka cerita tokoh-tokoh yang konon memang sengaja dirahasiakan.
Entahlah, mungkin justru dengan adanya rahasia dari tokoh-tokoh di Peniron itulah yang akhirnya menjadikan Peniron punya ciri khas cerita sejarah tersendiri.

Dari sisi pemerintahan, Peniron pertama kali dipimpin oleh Ki Udadiwangsa, konon beliau memimpin Peniron jauh sebelum tahun 1900an. Makam beliau ada di Istana Gede.
Selanjutnya, Peniron dipimpin oleh Ki Ranareja, yang di sebut-sebut sebagai Demang pertama. Salah satu tokoh nasional yang merupakan garis keturunan dari beliau adalah Edi Nalapraya, seorang jenderal yang dulu pernah memimpin IPSI. Atas kepedulian Edi Nalapraya, komplek pemakaman trah Ranareja kini telah dibangun dengan bagus dan rapi.

Setelah Ki Ranareja, pemimpin ketiga Peniron adalah Eyang Tirtawijaya yang tinggal di Bulugantung. Rumah tinggalnya dulu kini ditempati oleh keluarga Bapak Suroso Titodwiatmojo yang merupakan keturunan ketiga. Eyang Tirtawijaya dimakamkan di pemakaman Bulugantung.
Setelah Eyang Tirtawijaya, kepemimpinan Peniron diteruskan oleh putra beliau yaitu Eyang Ketiwijaya/Kusen yang juga ayah dari Bapak Suroso. Makam Eyang Ketiwijaya ada di Bulugantung.
Pemimpin kelima adalah Samikarya. Masa pemerintahannya adalah sesudah kemerdekaan Indonesia (1945). Pada masa itu, Peniron adalah daerah Gelondongan, yaitu sebuah desa koordinator bagi desa-desa sekitarnya, sehingga Kepala Desa waktu itu lebih dikenal sebagai Gelondong. Karena masa itu tidak ada batasan masa jabatan, dia baru berhenti menjadi Kepala Desa pada tahun 1984.

Pemimpin Peniron yang keenam adalah H. Nursodik yang memimpin Peniron selama 16 tahun, dari tahun 1986 – 2002. Beliau dimakam di Pemakaman Umum Karang Cengis.
Pemimpin ketujuh adalah Triyono Adi, yang memimpin Peniron sebagai Kepala Desa sejak tahun 2002 sampai sekarang.

Demikian sekilas tentang cerita sejarah Peniron. Sebagai tulisan rintisan, tentu masih banyak kekurangan dan kesalahan sehingga yang masih memerlukan banyak penyempurnaan. Siapapun masih sangat mungkin untuk menambah cerita sejarah ini karena diharapkan akan menjadi sebuah cerita sejarah yang lengkap, tentu didukung serta diakui oleh warga Peniron sebagai fakta sejarah Peniron. Dengan demikian, akhirnya akan menambah khasanah sejarah Peniron.

Sumber: Wikipedia

Sejarah Tiga Mimbar Masjid Wonoyoso, Pekeyongan dan Aditirto

 Rata-rata masjid memiliki mimbar tempat berdiri khatib pada saat khutbah Jum’at. Bentuk dan ukurannya bermacam-macam, biasanya diletakkan disamping mihrab (tempat imam memimpin sholat jama’ah) dalam masjid. Di Masjid Wonoyoso yang berada di kompleks Pondok Pesantren Salafiyah Wonoyoso Kebumen terdapat sebuah mimbar yang usianya lebih dari 60 tahun. Mimbar berbahan baku kayu nangka itu konon dibuat oleh seorang tukang kayu bernama Tohir yang juga alumni santri Pesantren Salifiah saat kiai Nasokha.
Cerita tentang pembuat mimbar itu NgapakNEWS dapat dari seorang alumni santri Pesantren Salafiah, Salim, yang kini menjadi pengasuh Musala Asy-Syafi’iyyah Murtirejo Kebumen. Selain alumni santri Pesantren Salafiah di tahun 60an, Salim juga pernah nyantri di pesantren MIftakhul Anwar Pekeyongan. Kabarnya juga, Salim pernah jadi ketua GP Ansor kecamatan Klirong.
Menurut cerita Salim, Tohir membuat tiga buah mimbar dengan bentuk dan ukuran yang sama. Bahan bakunya juga sama, dari kayu nangka. “Beliau menebang pohon nangka sendiri lalu mengolahnya menjadi tiga buah mimbar, tanpa ada yang menyuruh dan membayar, Ikhlas,” kata Salim.
Tiga buah mimbar yang sudah jadi lalu dikirim oleh Tohir ke tiga masjid, yakni Masjid Wonoyoso yang ada di Pesantren Salafiah Wonoyoso, masjid yang ada di Pesantren Miftakhul Anwar Pekeyongan Podoluhur Klirong dan masjid di desa Jonggol Aditirto. Tohir juga mengantar sendiri tiga mimbar tesebut dengan gerobak dan hanya dibantu oleh anaknya.
“Tiga mimbar itu diserahkan sendiri oleh Tohir kepada tiga pengasuh Masjid, dengan pesan jika suatu saat rusak, yang akan memperbaiki juga yang membuat mimbar itu,” kata Salim.
Kabarnya, karena keihlasan Tohir pembuat mimbar itu telah telah menjadikannya pergi haji tanpa persiapan sama sekali. Adiknya yang sudah siap-siap naik haji, seminggu sebelum berangkat meninggal dunia. “Tohir diminta berangkat haji menggantikan adiknya yang meninggal dunia seminggu sebelum pemberangkatan,” lanjut salim.
Sekitar tahun 70an, mimbar buatan Tohir yang ada pondok Miftahul Anwar Podoluhur rusak. Sesuai pesan pembuatnya maka dihubungilah Tohir untuk memperbaikinya. “Waktu itu saya yang disuruh menghubungi Haji Tohir Aditirto. Pada saat bertemu beliau, saya sempat bertanya cerita beliau saat berhaji. Dari sinilah terungkap adanya 3 mimbar buatannya yang dihadiahkan ke tiga masjid,” kenang Salim.
Sampai saat ini, ketiga mimbar kembar itu masih tetap dipakai. Disamping masih kokoh dan terawat baik, bentuk desainnya tidak ketinggalan jaman. Anda bisa melihatnya di Masjid Pondok Salafiyah Wonoyoso kelurahan Bumirejo Kebumen, Masjid Pondok Pesantren Miftahul Anwar Pekeyongan Podoluhur Klirong dan masjid lama desa Aditirto kecamatan Pejagoan. (Agus)

Sumber:  NgapakNEWS.com.

Wednesday, December 26, 2012

Sejarah Berdirinya Kabupaten Kebumen

Asal mula nama Kebumen tidak lepas dari keberadaan tokoh KYAI PANGERAN BUMIDIRJA. Beliau adalah bangsawan ulama dari Mataram, adik Sultan Agung Hanyokro Kusumo. Ia dikenal sebagai penasihat raja, yang berani menyampaikan apa yang benar itu benar dan apa yang salah itu salah. Kyai P Bumidirjo sering memperingatkan raja bila sudah melanggar batas-batas keadilan dan kebenaran. 

Ia berpegang pada prinsip : agar raja adil dan bijaksana. Disamping itu, ia sangat kasih dan sayang kepada rakyat kecil. Kyai P Bumidirjo memberanikan diri memperingatkan keponakannya, yaitu Sunan Amangkurat I. Karena sunan ini sudah melanggar paugeran keadilan dan bertindak keras dan kejam. Bahkan berkompromi dengan VOC (Belanda) dan memusuhi bangsawan ,ulama dan rakyatnya. Peringatan tersebut membuat kemarahan Sunan Amangkurat I dan direncanakan akan dibunuh, Karena menghalangi hukum qishos terhadap Kyai P Pekik dan keluarganya (mertuanya sendiri).

Untuk menghadapi situasi seperti itu, Kyai P Bumidirjo lebih baik pergi meloloskan diri dari kungkungan sunan Amangkurat I. Dalam perjalanan ia tidak memakai nama bangsawan, namun memakai nama Kyai Bumi saja. Dalam perjalananya Kyai P Bumidirjo sampai ke Panjer dan mendapat hadiah tanah di sebelah utara kelok sungai Lukulo pada tahun 1670. Pada tahun itu juga dibangun padepokan/pondok yang kemudian dikenal dengan nama daerah Ki bumi atau Ki-Bumi-An, menjadi KEBUMEN. Oleh karena itu bila lahirnya Kebumen diambil dari segi nama, maka versi Kyai Bumidirjo yang dapat dipakai dan mengingat latar belakang peristiwanya tanggal 26 Juni 1677. 
Berdasarkan bukti-bukti sejarah bahwa Kebumen berasal dari kata Bumi, nama sebutan bagi P Kyai Bumidirjo, mendapat awalan Ke dan akhiran an yang menyatakan tempat. Hal itu berarti Kabumen mula mula adalah tempat tinggal P Bumidirjo.

Di dalam perjalanan sejarah Indonesia pada saat dipegang Pemerintah Hindia Belanda telah terjadi pasang surut dalam pengadaan dan pelaksanaan belanja negara , keadaan demikian memuncak sampai klimaksnya sekitar tahun 1930. Salah satu perwujudan pengetatan anggaran belanja negara itu adalah penyederhanaan tata pemerintahan dengan penggabungan daerah-daerah Kabupaten (regentschaap) . Demikian pula halnya dengan Kabupaten Karanganyar dan Kebupaten Kebumen telah mengalami penggabungan menjadi satu daerah Kabupaten menjadi Kabupaten Kebumen. Surat keputusan tentang penggabungan kedua daerah ini tercatat dalam lembaran negara Hindia Belanda tahun 1935 nomor 629. Dengan ditetapkannya Surat Keputusan tersebut maka Surat Keputusan terdahulu tanggal 21 juli 1929 nomor 253 artikel nomor 121 yang berisi penetapan daerah kabupaten Kebumen dinyatakan dicabut atau tidak berlaku lagi. Ketetapan baru tersebut telah mendapat persetujuan Majelis Hindia Belanda dan Perwakilan Rakyat (Volksraad).

Sebagai akibat ditetapkannya Surat Keputusan tersebut maka luas wilayah Kabupaten Kebumen yang baru yaitu : Kutowingun, Ambal, Karanganyar dan Kebumen. Dengan demikian Surat Keputusan Gubernur Jendral De Jonge Nomor 3 tertanggal 31 Desember 1935 dan mulai berlaku tanggal 1 Januari 1936 dan sampai saat ini tidak berubah. Sampai sekarang Kabupaten Kebumen telah memiliki Tumenggung/Adipati/Bupati sudah sampai 29 kali.


Dikutip dari Kebumenkab

Mengenal fasilitas dan layanan di Taman Kota HM Sarbini Kebumen

Sejak diresmikannya taman kota HM Sarbini, saat ini pengelolaannya  terus berbenah. Dalam rangka memenuhi kebutuhan rekreasi masyarakat. Sebagaimana lazimnya taman kota, maka taman kota ini tentunya diharapkan dapat berfungsi sebagai tempat untuk bersantai atau melakukan rekreasi bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa mengenal kelompok usia. 



Banyak anak-anak bermain dengan didampingi oleh orang tuanya, beberapa kelompok anak muda memanfaatkan gazebo untuk saling berbagi dan berinteraksi. Beberapa kelompok remaja lain memanfaatkan sarana hotspot area untuk mengakses internet atau bahkan ada yang hanya sekedar nongkrong saja. Terlebih di taman kota ini banyak fasilitas pendukung selain hotspot area, ada juga taman bermain dan sarana usaha berupa kios-kios yang menyediakan aneka ragam kebutuhan. 

Satu lagi, hal yang menjadi kekhususan taman kota Kebumen ini adalah, fungsinya tidak hanya sekedar untuk bersantai, rekreasi semata. Namun unsur edukasi juga tidak dilupakan, dalam hal ini taman kota Kebumen ini menyediakan sarana pembelajaran bagi anak-anak khususnya terkait dengan upaya untuk meningkatkan kedisiplinan dan ketertiban lalu lintas. 
Oleh karenanya taman kota Jenderal HM Sarbini,  ada yang menyebutnya dengan Taman Lalu Lintas.


Peresmian taman kota ini sendiri telah dilakukan oleh orang nomor satu di Kebumen yaitu Buyar Winarso, SE pada tanggal 25 Mei 2012. Taman kota ini dibangun dengan dana dari APBD tahun 2011 sebesar 2,5 M dan ini adalah salah satu bentuk kepedulian pemerintah daerah setempat untuk menyediakan ruang terbuka hijau (RTH) yang sekaligus merupakan upaya untuk memenuhi harapan masyarakat kota Kebumen akan tempat yang bersih, segar, menyenangkan, aman dan nyaman. Hal ini tentunya sangat sesuai dengan slogan kota Kebumen yaitu BERIMAN (Bersih, Indah, Manfaat, Aman dan Nyaman ).


Ketika mencoba memasuki taman kota ini paling tidak akan menjumpai berbagai fasilitas dan pelayanan taman yang cukup memadai dan membuat nyaman. Berbagai fasilitas itu seperti:






  • Layanan Parkir
  • Layanan Satpam
  • Layanan Petugas Kantin
  • Konsultasi Tumbuh Kembang Anak
  • Konsultasi Psikologi Anak (Analisa Sidik jari)
  • Pintu Gerbang dan Pagar
  • Tempat Parkir
  • Gedung Kantor
  • Mushola
  • Kantin/kios pedagang
  • Toilet dan WC
  • Tempat pembuangan sampah
  • Hot Spot Area (Wi Fi) Gratis koneksi internet
  • Papan Informasi dan Koran dinding
  • Gazebo besar (Aula terbuka) (30 orang duduk)
  • Gazebo kecil (kapasitas 4 tempat duduk)
  • Kursi taman permanen
  • Papan display rambu lalu-lintas
  • Lampu hias (terutama pada saat malam hari)
  • Lampu penerang (terutama pada saat malam hari)
  • Taman lalu lintas
  • Patung Jenderal HM Sarbini
  • Air mancur dan ikan hias
  • Koleksi tanaman hias dan peneduh (50 jenis)
  • Arena dan alat permainan anak: ayunan, peluncur 
  • Alat-alat permainan edukatif (APE)
Dari hasil wawancara kepada BumenMajuBersama selaku pengelola taman, diakui bahwa fasilitas yang ada ini akan terus di kembang-maksimalkan. BumenMajuBersama yang berlokasi tepat di sebelah timur Taman Kota, menyatakan fihaknya saat ini sedang melakukan pembenahan internal maupun eksternal. Internal, BumenMajuBersama sedang melakukan revitalisasi manajemen dan devisi pengelola taman kota. Secara eksternal, minggu ini sedang melakukan survei pengunjung. Upaya ini dilakukan untuk memperoleh masukan riil dari masyarakat langsung. Dari hasil sementara, beberapa fasilitas dan layanan yang menjadi masukan untuk dikembangkan diantaranya adalah:
  • Denah lokasi taman
  • Daftar Keterangan dari masing-masing jenis tanaman
  • Forum terbuka (diskusi tematik) dengan narasumber yang terjadwal
  • Penyelenggaraan Kursus (Bahasa, Seni Lukis, Tari, Out-Bond)
  • Persewaan sepeda kecil, sepatu roda
  • Pos Kesehatan
  • Lomba-lomba yang terjadwal
  • Diorama atau perpustakaan elektronik seputar sejarah kebumen
Berita dan gambar dari berbagai sumber

Jenderal HM Sarbini Tinggal di Desa Indrosari, Buluspesantren, Kab. Kebumen





Banyak tokoh-tokoh besar dan berjasa dalam perjuangan yangberasal dari Kabupaten Kebumen. Salah satunya Jenderal HM Sarbini. Jenderal HM Sarbini adalah seorang Purnawirawan yang dilahirkan di Kebumen dan banyak mengabdi selama masa perjuangan baik di bidang militer maupun pemerintahan RI.

Dalam masa perjuangan terutama 20 Oktober 1945 M Sarbini yang kala itu berpangkat letkol, memimpin pasukan tentara keamanan rakyat resimen kedu tengah dan menyerang serta mengepung tentara sekutu dan NICA di Desa Jambu Ambarawa yang kemudian dikenal dengan peristiwa Palagan Ambarawa. 

Selama masa Pemerintahan Bung Karno Mayjend Sarbini menjabat sebagai menteri pertahanan dalam kabinet Dwikora II tahun 1966 yang kemudian digantikan oleh Letjen Soeharto. Untuk mengenang jasa-jasanya sekaligus sebagai wujud kebanggaan masyarakat Kabupaten Kebumen, saat ini tengah diusulkan pemberian gelar pahlawan nasional untuk jenderal HM Sarbini. Untuk itu Kepala Disnakertransos Kebumen Drs. Eko Widianto mengundang berbagai elemen, salah satunya HR. Soenarto, ketua letjen veteran Kebumen, Kasdim 0709 Kebumen serta dari Pepabri dan DHC 45 dan dinas terkait


Menurut warga desa Indrosari, Jendral Sarbini dulu pernah tinggal di desa Indrosari, Kecamatan Buluspesantren, Kabupaten Kebumen. Sekarang Rumah tua itu ditempati oleh Bpk. Djati Asmoro Krisno. Maka tidak heran kalau ada jalan HM. Sarbini di desa Indrosari ke utara sampai Pasar Hewan Kebumen. Banguna rumahnya berbentuk Joglo.

Untuk mengenang jasanya pemerintah RI mengabadikan namanya untuk namagedung (Balai Sarbini) di Jakarta, nama jalan dan Taman Kota di Kebumen (Taman HM. Sarbini)

Sumber: BumenNews

Taman Kota "HM Sarbini" Kebumen, sebagai taman rekreasi segala umur


Ruang publik berupa taman kota akhirnya benar-benar terwujud di kota Kebumen. Setelah alun-alun Kebumen direnovasi dan dijadikan sebagai ruang publik, kini taman kota yang diberi nama Taman Kota Jenderal HM Sarbini hadir di kota tercinta ini. Bahkan taman kota ini telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat umum, mulai dari kalangan anak-anak, remaja hingga orang tua.
Taman Kota Sarbini di malam hari  ( Foto : Ario M Sano)
Peresmian taman kota ini sendiri telah dilakukan oleh orang nomor satu di Kebumen yaitu Buyar Winarso, SE pada tanggal 25 Mei 2012. Taman kota ini dibangun dengan dana dari APBD tahun 2011 sebesar 2,5 M dan ini adalah salah satu bentuk kepedulian pemerintah daerah setempat untuk menyediakan ruang terbuka hijau (RTH) yang sekaligus merupakan upaya untuk memenuhi harapan masyarakat kota Kebumen akan tempat yang bersih, segar, menyenangkan, aman dan nyaman. Hal ini tentunya sangat sesuai dengan slogan kota Kebumen yaitu BERIMAN ( Bersih, Indah, Manfaat, Aman dan Nyaman ).

Sebagaimana ditulis RasimunWay, maka taman kota ini berfungsi sebagai tempat untuk bersantai atau melakukan rekreasi bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa mengenal kelompok usia. Banyak anak-anak bermain dengan didampingi oleh orang tuanya, beberapa kelompok anak muda memanfaatkan gazebo untuk saling berbagi dan berinteraksi. Beberapa kelompok remaja lain memanfaatkan sarana hotspot area untuk mengakses internet atau bahkan ada yang hanya sekedar nongkrong saja. Terlebih di taman kota ini banyak fasilitas pendukung selain hotspot area, ada juga taman bermain dan sarana usaha berupa kios-kios yang menyediakan aneka ragam kebutuhan. 

Satu lagi, hal yang menjadi kekhususan taman kota Kebumen ini adalah, fungsinya tidak hanya sekedar untuk bersantai, rekreasi semata. Namun unsur edukasi juga tidak dilupakan, dalam hal ini taman kota Kebumen ini menyediakan sarana pembelajaran bagi anak-anak khususnya terkait dengan upaya untuk meningkatkan kedisiplinan dan ketertiban lalu lintas. Oleh karenanya taman kota Jenderal HM Sarbini,  ada yang menyebutnya dengan Taman Lalu Lintas.

Sumber pendukung :
http://www.kebumenkab.go.id/index.php/public/potenda/detail/12

Taman Kota "HM Sarbini" Kebumen diresmikan


Impian Masyarakat Kebumen Untuk Memiliki Ruang Publik Berupa Taman Kota Akhirnya Terwujud Juga. Yaitu Dengan Dibangunnya Taman Kota Jenderal HM Sarbini Yang Berlokasi Di Jalan Ahmad Yani Kebumen. Pembangunan Taman Kota Juga Dipadukan Dengan Konsep Lalu Lintas, Dimana Terdapat Taman Lalu Lintas Sebagai Tempat Pembelajaran Tertib Lalu Lintas Bagi Anak-Anak Di Lokasi Tersebut .
Peresmian Taman Kota Dilakukan Oleh Bupati Kebumen H Buyar Winarso,SE , Jumat Pagi (25/5) Yang Ditandai Dengan Pelepasan Balon Dan Memencet Sirine Untuk Membuka Selubung Patung Jenderal HM Sarbini. Hadir Dalam Kesempatan Tersebut Kapolres Kebumen Beserta Anggota Forum Pimpinan Daerah , Lantas Polda Jateng, Ahli Waris Jenderal HM Sarbini, DHD 45 Jawa Tengah, DHC 45 Kebumen, Serta Sejumlah Pejabat Terkait Di Lingkungan Setda Kebumen. Bupati Kebumen H Buyar Winarso,SE Dalam Sambutannya Mengatakan Pembangunan Taman Kota Merupakan Salah Satu Wujud Ruang Terbuka Hijau (RTH) Publik Yang Mutlak Dipelukan. Hal Tersebut Sesuai Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang Mewajibkan Pemerintah Daerah Untuk Mewujudkan Adanya RTH Seluas 30% Dari Luas Suatu Wilayah Perkotaan. 

Taman Kota Merupakan Salah Satu Upaya Untuk Memenuhi Harapan Masyarakat Perkotaan Kebumen Akan Tempat Yang Bersih, Segar, Menyenangkan, Aman Dan Nyaman. " Untuk Itu Saya Minta Masyarakat Selalu Menjaga Dan Memelihara Fasilitas-Fasilitas Tersebut Agar Berfungsi Dengan Baik " Ungkap Orang Nomer Satu Di Kebumen Tersebut. Lebih Lanjut Disampaikan Taman Kota Saat Ini Tidak Lagi Hanya Berfungsi Sebagai Ruang Terbuka, Namun Fungsinya Berkembang Menjadi Lebih Kompleks. Tidak Hanya Berfungsi Kesenangan Atau Rekreasi Semata Tetapai Juga Memiliki Fungsi Sosial, Pendidikan Lingkungan , Ekonomi Serta Fungsi Estetis . Begitu Pula Dengan Taman Kota Jenderal HM Sarbini Yang Memadukan Konsep Edukasi Dalam Bentuk Taman Lintas. Dari Taman Tersebut Diharapkan Bisa Menjadi Pembelajaran Bagi Masyarakat, Khususnya Anak-Anak Dalam Rangka Meningkatkan Kedisiplinan Dan Ketertiban Berlalu Lintas.

Adapun Berbagai Fasilitas Fisik Taman Kota &Rdquo;Jenderal HM. Sarbini&Rdquo; Di Antaranya Arena Bermain, Hotspot Area, Area Refleksi, Taman Lalu Lintas, Sarana Usaha (Kios) Maupun Fasilitas Pendukung Lainnya. Pembagunan Taman Kota Jenderal HM Sarbini Menggunakan Anggraan APBD Tahun 2011 Sebesar Rp 2,5 Milyar , Diatas Tanah Seluas 7.860 m2.

Sejarah Berdirinya Desa Kajoran, Karanggayam, Kab. Kebumen


Pada jaman dahulu kala Desa ini namanya Desa JurangJero yang dikelilingi oleh pegunungan kecil, lalu datanglah seseorang yang pintar dan sakti yaitu Mbah Agung dari Jogjakarta. Mbah Donosari atau dikenal Mbah Agung atau Mbah Lugu beliau dikenal sebagai orang yang arif, bijak dan disegani oleh masyarakat Desa Kajoran.
Mbah agung datang ke Desa Jurangjero karena suatu peristiwa yaitu Mbah Agung bermasalah dengan adiknya. Mbah agung adalah anak dari Surya Diningrat adiknya bernama Surya Negara. Mbah Agung disuruh mandi keramas dan minum air degan ijo (kelapa muda hijau) tetapi sudah diminum oleh adiknya. Mbah Agung adu kesaktian dengan adiknya lalu larilah beliau ke Desa Jurangjero karena untuk mencari kesaktian lagi (bertapa). Sebelum pergi ke Desa Jurangjero Mbah Agung berkata kepada adiknya “Runtemurun 7 (pitu) tedap 8 (wolu) yang jadi Ratu adalah Anakku” lalu pergilah ke Desa Jurangjero dan setelah lama di Desa Jurangjero Mbah Agung memperistri seorang wanita dari Desa Jurangjero sebagai selir, istri pertama yang dari Jogjakarta sedang mengandung dan adiknya Mbah Agung yang di Jogjakarta pun sudah beristri dan sama-sama sedang mengandung juga kemudian lahirlah anak Mbah Agung yang berasal dari Desa Jurang Jero seorang Putra tetapi namanya tidak diketahui, Istri dari adiknya Mbah Agung yang di Jogjakarta juga akan melahirkan tetapi mengalami kesulitan kemudian adik dari Mbah Agung pergi ke Desa Jurangjero menjemput Mbah Agung untuk membantu persalinan istrinya agar dapat melahirkan. Mbah Agung menyuruh seorang “Mbah Perempuan” sakti yang dalam sekejap saja bisa sampai di Jogjakarata, mbah perempuan tersebut disuruh Mbah Agung untuk membawa anak dari Mbah Agung untuk ditukarkan dengan bayi dari anak adiknya sehingga anak dari Mbah Agung berada di Jogjakarta dan anak dari adik Mbah Agung berada di Desa Jurang Jero.

Setelah Mbah Agung meninggal dunia dan dimakamkan di Pesarean Gede yang letaknya diantara Dukuh Kewao desa Kajoran dan Desa Karangtengah. Makam Mbah Agung oleh warga masyarakat sampai saat ini masih dieramatkan bahkan pada bulan-bulan tertentu banyak pendatang yang berziarah dan bermeditasi.

Semula Desa ini dinamakan desa Jurangjero dan Sejak berdirinya Masjid Kajoran pada tahun 1819 Desa Jurangjero diubah menjadi Desa Kajoran. Sebelum desa Jurangjero diubah menjadi Desa Kajoran datanglah seorang muslim yaitu Sunan Kalijaga untuk mengajarkan agama islam karena belum adanya tempat mengaji/beribadah maka Sunan Kalijaga membuat Suro/Masjid diDesa Jurangjero yang letaknya di Dukuh Kemojing namun sebelum masjid jadi sunan Kalijaga pulag ke Demak karena di Demak juga sedang membuat Masjid sesampainya di Demak disana ada sunan Giri, sunan Ampel dan Sunan Kalijaga pun ikut membantu membuat Masjid lau ditanyalah Sunan kalijaga oleh Sunan Giri sebagai berikut :

Sunan Giri : Dari mana Sunan Kalijaga ?
Sunan kalijaga : Dari Jurangjero
Sunan Giri : Ngapain disana ?
Sunan Kalijaga : Membuat Masjid...”
Sunan Giri : Jorjoran banget sih, orang disini belum jadi ko membuat disana”

Kemudian Sunan Kalijaga diberi kayu/lakar untuk dipahat namun pada waktu mengkapak kayu tersebut mengenai kepala “Orong-orong” (anjing tanah) sehingga putuslah kepalanya kemudian disambnglah kepala orong-orong tersebut dengan tatal kayu (pecahan kayu jati yang dipahat) sehingga menyatu dan orong-orong tersebut hidup kembali.

Setelah Masjid Demak tersebut jadi daerah tersebut diberi nama Desa Jorjoran oleh Sunan Giri yang kemudian oleh Sunan Kalijaga namanya disempurnakan menjadi Desa Kajoran sampai dengan sekarang setelah itu Sunan Kalijaga kembali ke Desa Jurangjero dan setelah itu Sunan Kalijaga memerintahkan/ memasrahkan kepada anaknya untuk mengajarkan ajaran-ajaran agama islam diMasjid Kajoran kemudian Sunan Kalijaga kembali lagi ke Demak.

Orang-orang yang meneruskan mengajarkan agama islam yaitu :
1. KH. Sanmurdi
2. KH. Mad Mustar
3. KH. Mad Dalyar Dullah Ikhsan
4. KH. Santa Wijaya
Ahirnya banyak orang yang mengaji di Masjid Kajoran dan mengenal agama Islam sampai sekarang ini.

Sumber: Pemdes Kajoran

Sejarah Berdirinya Desa Seling, Karangsambung, Kab. Kebumen


Pada jaman dahulu ada seorang yang sakti yaitu mbah SURANAYA yang sering disebut dengan mbah Penosogan,. mbah penosogan adalah cucu dari mbah AGUNG dari Kajoran..Mbah Agung mempunyai putra bernama mbah NAYADIWANGSA yaitu mbah kedung pane..Mbah Kedung Pane menurunkah Mbah SURANAYA ( Mbah Penosogan ) Mbah Penosogan adalah seorang yang sangat sakti,Beliau orang yang pertama kali babad Alas sembung gani di wilayah yang sekarang menjadi pemukiman dan sebuah Desa yaitu Desa Seling,sehingga ini merupakan sejarah yang harus kita uri-uri jangan sampai hilang dan tidak di kenang oleh anak cucu keturunan dari masyarakat Desa seling sekarang maupun yang akan datang..
setelah mbah Penosogan bermukim/bertempat tinggal yang sekarang menjadi Desa seling..Pada suatu hari 

Mbah penosogan kedatangan tamu dari keraton jogja yang bernama KERTANEGARA, KERTANEGARA mertamu ke mbah Penosogan untuk minta pertolongan/perlindungan kepada mbah penosogan karena beliau dikejar oleh prajurit keraton dan tentara belanda, karena beliau tidak sepakat dengan kedudukan Belanda di Jogja.Sehingga Kertanegara di anggap mbalelo..Waktu itu mbah penosogan setuju setelah mendengar cerita mbah kertanegara..Kemudian mbah penosogan mengusap wajah mbah kertanegara dan berubahlah wujud wajahnya,sehingga siapapun yang melihatnya tidak mengenali wajah mbah kertanegara kalau itu adalah mbah kertanegara..Kemudian kertanegara di beri nama menjadi KERTAPENGALASAN yang sekarang di kenal sebagai mbah PRINGTALI,..

Setelah keraton jogja sudah dianggap aman,.Mbah pringtali/kertanegara kembali ke keraton..Dan kembali ke mbah penosogan dengan membawa seekor kerbau yang berwarna kuning dan seekor jago yang berwarna hitam keling (celink) ayam tersebut tidak ber ekor/lancur seperti umumnya ekor jago namun papak seperti ekor ayam betina..Dan kaki jago tersebut satu berwarna kuning,yang satunya berwarna putih.. Yang sampai saat ini di kenal dengan nama JAGO SELING.. Jago tersebut di berikan kepada mbah Penosogan.. Dan di situlah nama DESA SELING di ambil dari sejarah tersebut

Sumber: Pemdes Seling

Sejarah Berdirinya Desa Lerepkebumen, Poncowarno, Kab. Kebumen


Lerepkebumen adalah sebuah desa yang masuk dalam wilayah Kecamatan Poncowarno, Kabupaten Kebumen. Nama Lerepkebumen diambil dari sebuah peristiwa perjalanan Pangeran Bumidirja, (paman Sultan Amangkurat I) yang sebelumnya menjabat sebagai dewan Parampara (Penasehat) Kerajaan Mataram.
Dikisahkan bahwa Amangkurat I (1646–1677) dalam menjalankan pemerintahan sering tidak sejalan dengan para bawahannya. Hukuman yang dijatuhkan terkadang tidak seimbang dengan kesalahan yang dilakukan. Patih dan seluruh jajaran pemerintahan kerajaan termasuk Kanjeng Pangeran Bumidirja yang merupakan dewan Parampara (Penasehat) berkali–kali memberi nasehat kepada sang Raja bahwa negara akan mengalami kekacauan jika ia tidak bertindak adil dalam menjalankan hukum dan pemerintahan. Namun nasehat–nasehat tersebut justru semakin membuat Amangkurat I marah dan memberi ancaman hukuman kepada Pangeran Bumidirja. Kesabaran Pangeran Bumidirja habis ketika Amangkurat I menjatuhkan hukuman penggal kepada Pangeran Pekik yang telah berjasa banyak kepada kerajaan saat itu (Pengeran Pekik berhasil merebut kembali Surabaya ke tangan Mataram dan menundukkan Sunan Giri yang memberontak kepada Mataram) hanya karena kesalahpahaman kecil yang bersifat pribadi. Pangeran Bumidirja yang mengetahui bahwa keesokan paginya akan dijatuhi hukuman mati juga oleh Sang Raja, berhasil melarikan diri dari kraton bersama keluarganya.
Pelarian Pangeran Bumidirja bersama istrinya diikuti oleh tiga orang abdi setia. Perjalanan mereka menuju ke Panjer. Sesampainya di Panjer, Pangeran Bumidirja beserta rombongan diterima dengan baik oleh Pemimpin Panjer saat itu yakni Ki Gede Panjer II. Pangeran Bumidirja kemudian diberi ijin untuk menempati tanah di wilayah Panjer seluas kurang lebih 3 Pal ke selatan dan ½ Pal ke timur dari tepi sungai Luk Ula. Di tempat tersebut Pangeran Bumidirja kemudian mengganti namanya dengan sebutan Kyai Bumi/Ki Bumi agar tidak dikenal oleh para petugas kraton Mataram yang ditugaskan mencarinya. Tempat Kyai Bumi tersebut akhirnya dikenal warga dengan sebutan Kebumian yang berarti tempat tinggalnya Kyai Bumi. Kyai Bumi pun menjadi sesepuh yang sangat dihormati di tempat tersebut.

Tradisi Pasar Senggol Selang
Sejak kepergian Pangeran Bumidirja dari kraton, Amangkurat I memerintahkan dua orang abdi kraton untuk melakukan pencarian terhadap Pangeran Bumidirja. Utusan Raja tersebut pun akhirnya sampai di Panjer dan berhasil menemukan Pangeran Bumidirja yang ketika itu dikenal sebagai Kyai Bumi/Ki Bumi. Kedua utusan itu kemudian mengutarakan maksud kedatangannya bahwa mereka diutus untuk mencari Pangeran Bumidirja sampai ketemu, dan tidak boleh pulang tanpa membawa serta Pangeran Bumidirja. Kyai Bumi menolak untuk pulang ke kraton sehingga kedua utusan itu pun akhirnya tidak kembali ke kraton serta memilih mengabdi kepada Kyai Bumi. Oleh karena keberadaan Kyai Bumi di Kebumian Panjer telah diketahui, maka ia memutuskan untuk meninggalkan Kebumian agar keberadaannya tidak tercium  lagi oleh kraton. Kyai Bumi beserta keluarga dan para abdinya akhirnya meninggalkan Kebumian Panjer dengan berjalan kaki diikuti oleh para warga Kebumian. Sesampainya di Selang, Kyai Bumi meminta agar para warga berhenti mengikuti kepergiannya dan kembali ke tempatnya masing–masing (tradisi Pasar Senggol Selang adalah untuk mengenang peristiwa tersebut).

Asal Nama Lerepkebumen
Kyai Bumi beserta rombongan pun meneruskan perjalanan ke arah timur melalui jalur utara hingga berhenti di suatu tempat untuk beristirahat semalam. Daerah tersebut kemudian diberi nama Lerepkebumen atau sering disebut juga dengan Lerepbumen. Berasal dari dua kata : Lerep (bahasa Jawa yang berarti Berhenti) dan Bumen yang berasal dari nama sosok Kyai Bumi. Lerepkebumen bermakna tempat berhentinya Kyai Bumi. Setelah beristirahat semalam, rombongan Kyai Bumi melanjutkan perjalanan ke timur dan kemudian ke selatan, hingga berhenti di daerah Karang (daerah ini sekarang masuk dalam wilayah Desa Lundong Kecamatan Kutowinangun Kabupaten Kebumen). Di daerah ini Kyai Bumi menjadi seorang petani.
Karena dua utusan Sultan Amangkurat I tidak kembali lagi ke Mataram, akhirnya sang Raja kembali mengutus dua orang yang benama Udakara dan Surakarti. Dikisahkan bahwa dua orang utusan tersebut pun tidak kembali ke Mataram karena takut akan dijatuhi hukuman sebab tidak bisa membawa pulang Pangeran Bumidirja. Akhirnya Udakara dan Surakarti ikut mengabdi kepada Kyai Bumi.
Kyai Bumi menetap di daerah tersebut hingga akhir hayatnya. Makamnya dikenal dengan Makam Pangeran Bumidirja. Adapun Udakara dan Surakarti dimakamkan berbeda tempat akan tetapi masih dalam satu wilayah yang kini masuk dalam wilayah desa Lundong, Kecamatan Kutowinangun.

Keturunan Kyai Bumi
Kyai Bumi memiliki empat orang anak yakni Kyai GustiKyai BagusNyai Ageng, dan Kyai Bekel. Setelah wafatnya Kyai Bumi, yang menggantikan sebagai sesepuh di daerah tersebut adalah Kyai Bekel. Kemudian diteruskan oleh putra Kyai Bekel yang bernama Kyai Ragil. Sepeninggal Kyai Ragil, sesepuh digantikan oleh anaknya  yang bernama Hanggayuda yang kemudian menjadi Demang Kutowinangun.

Kejanggalan Makam Pangeran Bumidirja
Melihat penggalan cerita yang diambil dari Babad Kebumen ini, dapat disimpulkan bahwa Pangeran Bumidirja adalah Kyai Bumi. Artinya dua nama ini merupakan satu sosok tokoh. Namun, ketika kita melihat di lokasi kompleks makam yang telah dijadikan sebagai kawasan Cagar Budaya Kebumen ini (dimana setiap tahun tepatnya pada peringatan hari jadi Kebumen selalu diziarahi oleh para petinggi pemerintahan Kabupaten Kebumen), ada sebuah kejanggalan yakni terdapatnya makam bertuliskan Pangeran Bumidirja di dalam bangunan (cungkup) dan sebuah makam bertuliskan Kyai Bumi di luar Cungkup sebelah timur. Hal ini kiranya perlu mendapat perhatian dari pihak yang terkait sebab sangat berhubungan erat dengan pelurusan pemahaman sejarah bagi generasi penerus khususnya di Kebumen.

Sumber: Kebumen2013