Showing posts with label sejarah asal-usul desa. Show all posts
Showing posts with label sejarah asal-usul desa. Show all posts

Thursday, October 17, 2013

Sejarah Berdirinya Desa Karanggadung Kec. Petanahan Kab. Kebumen

Legenda Desa
Pada masa kepemimpinan Kanjeng Susuhunan Sayidin Panotogomo yang memerintah pada tahun 1601 Kerajaan Mataram menguasai wilayah brang wetan dan brang kulon ( bahasa Jawa sebelah barat dan sebelah timur ) diantaranya Kadipaten Pucang Kembar yang dipimpin oleh Hadipati Citro Kusumo , Kadipaten Bulupitu di pimpin oleh Jaka Puring dan Kadipaten Karang Gumelem . Dalam cerita ini yang menjadi lakon adalah sebagian dari wilayah brang kulon .

Pada waktu itu Hadipati Pucang Kembar mempunyai putri yang cantik jelita bernama Dewi Sulastri . Hadipati Bulupitu Raden Jaka Puring terkenal sakti mandraguna tetapi belum punya istri dan dia menderita cacat yaitu bibirnya tebal sebelah ( istilah Jawa mengrot ) dan kakinya pincang , mendengar bahwa di Kadipaten Pucang Kembar ada seorang putri cantik anak dari Hadipati Citro Kusumo maka Jaka puring ingin membuktikan dan bermaksud mempersuntingnya sebagai istri .

Setelah Raden Jaka Puring melihat kecantikan Dewi Sulastri ia lalu melamarnya namun belum diterima atau masih ditangguhkan karena Jaka Puring adalah seorang pemuda yang cacat maka ia disuruh menunggu dan dipersilahkan untuk tinggal sementara di Pucang Kembar.
Tidak lama kemudian datanglah seorang pemuda tampan dari Kadipaten Karang Gumelem bernama Raden Jono yang bermaksud hendak melamar pekerjaan di Kadipaten Pucang Kembar sambil mencari saudara kandungnya yang bernama Raden Wiro Kusumo , namun Sang Hadipati Citro Kusumo bingung karena tidak ada pekerjaan untuk Raden Jono bersamaan dengan itu putri Sang Hadipati Citro Kusumo yaitu Dewi Sulastri melihat pemuda tampan itu maka tertarik hatinya dan mengajukan usul kepada Kanjeng Romonya ( bahasa Jawa Ayah ) agar Raden Jono diterima bekerja di Kadipaten Pucang Kembar . Akhirnya Sang Hadipati menerima Raden Jono sebagai juru taman di Kaputren Dewi Sulastri . Karena sering bertemu antara Raden Jono dan Dewi Sulastri saling jatuh cinta ( Pepatah Jawa mengatakan , ” Witeng Tresno Jalaran Soko Kulino ” ).

Sementara dalam penantiannya Raden Jaka Puring sudah jemu menunggu jawaban dari Dewi Sulastri . Ia merasa curiga dengan hubungan Dewi Sulastri dan Raden Jono maka sambil menunggu jawaban dari Dewi Sulastri , Raden Jaka Puring menyuruh Pangeran Usmono Usmani ( adik Dewi Sulastri ) untuk mengawasi gerak-gerik Dewi Sulastri dan Raden Jono . Berdasarkan pengamatannya , Pangeran Usmono Usmani melaporkan bahwa Dewi Sulastri telah menjalin cinta dengan Raden Jono . Mendengar laporan itu Raden Jaka Puring merasa tersinggung dan mengambil kesimpulan bahwa dirinya ditolak karena Dewi Sulastri berpacaran dengan Raden Jono . Jaka Puring marah dan terjadilah perang antara Raden Jono dan Raden Jaka Puring .

Singkat cerita pertempuran yang tidak seimbang itu membuat Raden Jono kalah dan lari mencari perlindungan ke Pesanggrahan Pring Ori ( kelak bernama Desa Ori di wilayah Kecamatan Kuwarasan ) . Raden Jono minta perlindungan pada Kyai Karyadi dan disuruh sembunyi di dalam lumbung dan di tutup pakai kapuk ( kapas ) , tidak lama kemudian Raden Jaka Puring sowan pada Kyai Karyadi dan menanyakan keberadaan Raden Jono namun sang Kyai membohonginya dan mengatakan bahwa Raden Jono tidak berada di pesanggrahan Pringori . Jaka Puring lalu pulang kembali ke Kadipaten Bulu Pitu

Setelah Jaka Puring pergi maka Raden Jono dikeluarkan dari lumbung dan ditanya apa sebabnya Raden Jono dikejar-kejar oleh Raden Jaka Puring . Raden Jono menceritakan pada Kyai bahwa perjalanannya ke Pucang Kembar untuk melamar pekerjaan sambil mencari saudara kandungnya Pangeran Wiro Kusumo setelah tiba di Pucang Kembar diterima sebagai juru taman dan dicintai oleh Dewi Sulastri sementara Raden Jaka Puring yang sedang menunggu jawaban dari Dewi Sulastri atas lamarannya yang sesungguhnya ditolak karena Raden Jaka Puring menderita cacat , namun karena tidak tega untuk mengatakan alasan yang sebenarnya maka lamaran atas Dewi Sulastri hanya ditangguhkan jawabannya dan dipersilahkan untuk tinggal sementara di Kadipaten Pucang Kembar sembari menunggu jawaban dari Dewi Sulastri . Tapi karena Dewi Sulastri talah jatuh cinta kepada Raden Jono akhirnya Raden Jaka Puring cemburu dan terjadi pertarungan antara Raden Jono dan Raden Jaka Puring sampai akhirnya Raden Jono kalah dan lari ke Pesanggrahan Pring Ori untuk menimba ilmu di pesanggrahan sehingga bisa mengalahkan Raden Jaka Puring dan memperisteri Dewi Sulastri .

Mendengar jawaban dari Raden Jono sang kyai memberi saran . Untuk mencapai tujuannya Raden Jono harus bersemedi ( bertapa ) di bawah pohon besar bernama Wit Benda ( Pohon Benda : bahasa Jawa ) dan pohon itu berada di daerah yang angker namun dalam melakukan semedi itu harus dengan hati yang tulus , suci dan sabar .
Raden Jono pun menurut pada kata-kata Kyai Karyadi ia pun melakukan semedi dengan sabar dan hati yang tulus dan akhirnya pertapaannya mendapatkan hasil dari yang Maha Kuasa dengan memperoleh pusaka berupa Bungkul Kencana ( keris : bahasa Jawa ) . Dan akhirnya Raden Jono pulang ke Pucang Kembar bertemu dengan Dewi Sulastri dan ternyata Raden Jaka Puring sudah berada di Pucang Kembar untuk menanyakan jawaban Dewi Sulastri atas lamarannya . Dewi Sulastri menjawab bahwa dia mau dipersunting oleh siapapun namun ia punya bebana awujud adon-adon / giri patembaya ( bahasa jawa permintaan pertarungan ) antara Raden Jono dan Jaka Puring . Maka terjadilah pertarungan sengit antar keduanya yang dimenangkan oleh Raden Jono maka dikawinkanlah Dewi Sulastri dengan Raden Jono sedang Raden Jaka Puring Lari dan pulang ke Bulu Pitu .

Bersamaan dengan itu Hadipati Pucang Kembar mendapat surat mandat ( nawala ) dari Susuhunan Sayidin Panatagama ( Raja Mataram ) untuk memberantas gerombolan berandal di Gunung Tidar. Akhirnya Hadipati Pucang Kembar Citro Kusumo memerintahkan menantunya sebagai bukti pengabdiannya untuk memberantas berandal di Gunung Tidar atau sebagai Duta Pamungkas. Maka walupun dengan perasaan berat meninggalkan Dewi Sulastri Raden Jono berangkat menjalankan tugas sebagai Duta Pamungkas dari Susuhunan Sayidin Panatagama ( Raja Mataram ) ke Gunung Tidar sebagai bukti pengabdian kepada mertua dan negara . Mendengar berita bahwa Raden Jono diberi mandat untuk menjadi Duta Pamungkas Raden Jaka Puring yakin bahwa Raden Jono pasti gugur melawan gerombolan berandal di Gunung Tidar maka Raden jaka Puring menuju ke Pucang Kembar untuk menemui dan merebut Dewi Sulastri .

Dalam keadaan Dewi Sulastri sendiri tanpa suami dipaksa oleh Raden Jaka Puring untuk mengikuti kemauan Raden Jaka Puring menjadi istrinya . Sebagai seorang istri yang setia kepada suami Dewi Sulastri tidak mau menghianati Raden Jono maka akhirnya Raden Jaka Puring membawa lari dengan paksa Dewi Sulastri keluar dari kaputren . Sementara itu Raden Jono sampai di Gunung Tidar menjelang malam dan menunggu munculnya gerombolan berandal . Setelah malam datang akhirnya gerombolan pengacau itu muncul dan bertarunglah Raden Jono melawan gerombolan yang terkenal bengis dan sakti mandraguna namun dengan kesaktian dan niat suci pengabdiannya kepada negara dan orang tua serta berbekal Pusaka Bungkul Kencana akhirnya Raden Jono bisa mengalahkan gerombolan berandal itu dan membunuh pimpinannya dengan Bungkul Kencana . Dalam keadaan keris terhunus diperut pimpinan gerombolan itu menyebut-nyebut nama saudara kandungnya ,” Aduh , Dimas Jono dimanakah keberadaanmu lihatlah Kangmasmu ini sedang sekarat dan jauh dari saudara ”. Mendengar rintihan itu Raden Jono tersentak dan menjawab perkataan dari pimpinan gerombolan itu yang ternyat saudara kandung yang selama ini dicarinya ,” Aduh Kakangmas maafkan adikmu ini yang hanya menjalankan tugas dan ternyata yang kubunuh adalah Kangmas Wiro Kusumo , maafkan adikmu ini yang tidak tahu bahwa yang akan kubunuh adalah Kangmas Wiro Kusumo ”.
Raden Jono memeluk Raden Wiro Kusumo yang sedang sekarat dan keduanya saling bertangisan sambil bermaafan akhirnya Raden Wiro Kusumo tewas di pangkuan Raden Jono .
Betapa sedihnya perasaan Raden Jono memikirkan garis hidupnya yang harus melaksanakan tugas negara dengan meninggalkan istri tercinta dan ternyata harus membunuh kakak kandungnya sendiri .

Raden Jono pun pulang ke Pucang Kembar membawa kemenangan berselimut kesedihan karena harus mengorbankan nyawa saudara kandungnya yang selama ini sedang dicarinya demi pengabdiannya kepada mertua dan negara. Sesampai di Pucang Kembar semakin terguncang perasaan Raden Jono mendapati Dewi Sulastri telah dibawa lari oleh Raden Jaka Puring . Dalam keadaan lelah dan terguncang Raden Jono pun mengembara mencari keberadaan Dewi Sulastri menjelajah setiap wilayah sampai akhirnya tiba di pesisir selatan .

Sementara itu pelarian Raden Jaka Puring membawa Dewi Sulastri juga ke pesisir selatan . Sepanjang perjalanan Raden Jaka Puring senantiasa merayu Dewi Sulastri agar bersedia malayaninya namun rasa cinta dan kesetiaannya kepada Raden Jono tetap dipegang teguh oleh Dewi Sulastri sampai akhirnya Raden Jaka Puring kehilangan kesabarannya dan akhirnya Dewi Sulastri diikat pada sebuah pohon pandan .

Bersamaan dengan itu perjalanan Raden Jono sudah sampai di tempat itu namun sebelum ia bertemu dengan Dewi Sulastri ternyata Raden Jaka Puring telah lebih dulu melihat kedatangannya . Dengan sekonyong- konyong Raden Jaka Puring menyerangnya sehingga terjadi pertempuran yang sengit antara Raden Jono melawan Raden Jaka Puring . Dalam pertempuran itu Raden Jaka Puring terdesak dan kalah lalu melarikan diri ke arah utara . Raden Jono lalu menemui Dewi Sulastri yang masih terikat di pohon pandan . Terjadi suatu keajaiban bahwa pohon pandan tempat mengikat Dewi Sulastri berubah warna menjadi kuning sedang pohon pandan yang lain tetap berwarna hijau . Maka oleh Raden Jono tempat itu diberi nama Pandan Kuning ( kelak menjadi Pesanggrahan Pandan Kuning ).

Keajaiban kembali terjadi , setelah Raden Jono melepas ikatan Dewi Sulastri mereka lalu ditemui oleh Nyi Roro Kidul ( Ratu Pantai Selatan ) dan bidadari dari kayangan Dewi Nawang Wulan . Oleh Nyi Roro Kidul Dewi Sulastri disuruh pulang ke Pucang Kembar dengan perlindungan dari Nyi Roro Kidul dan Dewi Nawang Wulan . Sedang Raden Jono disuruh mengejar raden Jaka Puring ke arah utara . Perjalanan Raden Jono mengejar Raden Jaka Puring ke arah utara masuk ke sebuah hutan lebat yang banyak ditumbuhi pohon gadung penuh duri sebagai tempat persembunyian Raden Jaka Puring .
Disetiap langkahnya Raden Jono kesrimpet-srimpet wit gadung ( bahasa Jawa terhalang pohon gadung ) hampir di setiap pori-pori kulitnya terselip duri gadung hingga darah bercucuran maka alas atau hutan itu oleh Raden Jono dinamakan Karanggadung ( kelak menjadi desa Karanggadung ) .
Pelarian Raden Jaka Puring terus ke arah utara namun Raden Jono kehilangan jejak maka langkahnya menjadi ragu-ragu selangkah berhenti lalu melangkah lagi dan berhenti lagi sambil dia menengok mau terus ke utara atau ke selatan atau ke barat atau ke timur . Langkahnya yang mandeg mangu ( ragu-ragu ) itu membuat Raden Jono memberi nama tempat dengan nama ” Manga-mangu ” yang artinya perasaan ragu-ragu ( kelak menjadi desa Munggu ) . Namun akhirnya raden Jono memutuskan untuk mengejar ke arah utara sehingga mereka bertemu dan kembali terjadi pertarungan antar keduanya dan masing-masing membuat benteng pertahanan ( kelak dikenal sebagai ” Beteng ” dan ” Pertahanan ” ) dalam perkembangannya wilayah itu bernama Petanahan / kelak menjadi desa
Petanahan dan bekas bentengnya terkenal dengan nama ” Beteng ” .
Mereka terus bertarung sambil kejar-kejaran hingga sampai pada suatu tempat merasa kehausan dan hendak minum namun airnya berbau banger ( bahasa Jawa busuk ) yang konon dikarenakan bangkai manusia yang mati dan tidak dikubur dengan keajaiban hidup kembali ( pada urip , berasal dari bahasa Jawa ) dan tempat itu diberi nama Grumbul Banger Desa Padaurip ( kelak menjadi desa Padaurip ) .

Aksi kejar-kejaran itu terus ke arah utara sampai pada suatu tempat yang banyak ditumbuhi pohon Jati dan kehidupan masyarakatnya mulya ( sejahtera ) sehingga tempat itu dinamai Jatimulya ( kelak menjadi desa Jatimulya ) .
Kejar - kejaran dan pertarungan itu terus berlanjut ke utara sampai pada tempat / pekarangan yang banyak ditumbuhi wit gedang ( bahasa jawa pohon pisang ) lalu tempat itu diberi nama Karanggedang ( kelak menjadi Desa Karanggedang ) .

Dari Karanggedang mereka berlari kearah barat melewati sebuah sungai yang ditepi sungai itu banyak orang sedang memandikan (guyang ) hewan sehinga tempat itu dinamakan Guyangan.
Pengejaran dan pertarungan masih terus berlanjut kearah barat melewati sebuah grumbul atau alas yang berupa rumput alang- lang yang luas maka tepat itu diberi nama ” Alang – alang amba ” Kelak menjadi Desa Alang – alang Amba .

Pengejaran dan pertarunganpun terus berlanjut kearah selatan dalam keadaan sangat letih dan lemah mereka masih bisa bertahan hidup maka tempat itu diberi nama ” Kuwarasan ”. Merekapun terus bertarung dan saling mengejar menuju arah selatan sampai mereka berdua merasa kesal sendiri dan muring – muring ( bahasa Jawa marah –marah ) sambil istirahat Raden Jono memberi nama tempat itu ”Puring ”( Kelak menjadi pasar Puring ) .Walaupun dalam keadaan lelah dan letih Jaka Puring masih terus berusaha lari dan mencari hidup dan terus berlari ke selatan sampai di kisik / pesisir samudra yang tanahnya wedi ( bahasa jawa pasir ) yang setiap dilewati atau sepanjang kaki melangkah wedinya gugur alias ambruk maka tempat itu diberi nama ” Wedi Gugur ” kelak menjadi Pesanggrahan Wedi Gugur.

Raden Jaka Puring terus berusaha menghindar dari kejaran Raden Jono menuju kearah barat sampai akhirnya terjadi pertarungan lagi yang sangat sengit dan saling mengeluarkan kadigdayan ( kekuatan ) dan Raden Jaka Puring tersungkur sehingga tangan yang hendak diarahkan ke Raden Jono akhirnya mengenai karang sampai tembus / bolong sehingga tempat itu diberi nama Karangbolong , namun Raden Jaka Puring masih berusaha lari ke utara sampai akhirnya kehabisan tenaga sehingga tergelincir ke sungai dan pada kesempatan itu Raden Jono menghunus pusaka Bungkul Kencono dan menancapkanya ke tubuh Raden Jaka Puring dan terjadilah suatu keajaiban Raden Joko Puring berubah menjadi Buaya putih dan melontarkan sumpah serapah kepada Raden Jono bahwa dia menerima kekalahanya tidak bisa memperistri Dewi Sulastri dan menerima karma menjadi buaya putih namun bersumpah bahwa setiap keturunan Raden Jono yang memakai pakaian sama dengan yang dipakai oleh Dewi Sulastri akan menjadi mangsa / dimakan oleh buaya putih, Pakaian itu adalah mbayak ijo gadung ( Kebayak ), Jarit Amba Lurik ( Kain / tapih ) dan benting tritik ( stagen ). Atas kejadian itu oleh Raden Jono tempat itu diberi nama ”Buayan” kelak menjadi Kecamatan Buayan.

Dengan rasa letih dan tubuh yang penuh luka Raden Jono Pulang ke Pucang Kembar membawa perasaan suka cita atas kemenangannya melawan Raden Joko Puring dan perasaan rindu ingin segera bertemu Dewi Sulastri . Suasana penuh haru meliputi Kadipaten Pucang Kembar saat pertemuan antara Raden Jono dan Dewi Sulastri beserta keluarga kadipaten. Akhirnya Raden Jono di nobatkan sebagai Hadipati di Pucang Kembar.

Sumber: Dokumen Pemerintahan Desa Karanggadung

Sejarah Berdirinya Desa Peniron, Kec. Pejagoan, Kab. Kebumen

Peniron masa lampau adalah sebuah belantara dilembah Luk Ulo. Konon yang membuka hutan dan menjadikan daerah pemukiman adalah seorang ulama / kesatria bernama Eyang Rohmanudin alias Mbah Kuwu. Sayangnya, sampai akhir hayatnya Eyang Rohmanudin tidak mempunyai keturunan. Jasadnya dimakamkan di Pemakaman Istana Gede, di dukuh Krajan Peniron. Di pemakaman umum ini, banyak dimakamkan tokoh-tokoh pendahulu Peniron seperti Eyang Rohmanudin, Mbah Kalipancur, Mbah Udadiwangsa dan Mbah Samikarya.

Menyebut sejarah, cerita Peniron tak lepas dari sejarah berdirinya kota Kebumen/Kebumian/Kabumian. Pada saat Ki Bumi, seorang Senopati dari Mataram membuka desa di lembah Luk Ulo sehingga dinamakan Ki-Bumi-an atau Ke-Bumi-an atau sekarang menjadi Kebumen, seorang pengikutnya yaitu Ki Bodroyudo/Eyang Bodroyudo tinggal di Peniron.

Disamping beliau, sejarah Peniron juga mencatat pejuang-pejuang yang lain seperti Eyang Kuntiri, Eyang Ragil, Eyang Nayawedana sang penakluk jin dan membuka hutan menjadi daerah Kebokuning, serta Eyang Drapaita alias Mbah Kalipancur yang dengan menancapkan keris dan keluar air sehingga daerah Kalipancur terdapat mata air yang tak pernah kering. Pejuang Peniron lainnya adalah Eyang Canakrom dan Eyang Guna Wijaya atau Eyang Astaguna atau Mbah Watupecah, seorang empu yang selalu mandi menggunakan api.

Masih banyak lagi tokoh-tokoh dalam sejarah Peniron, tetapi yang mengherankan beberapa sumber sejarah tidak mau bercerita secara detail bahkan menutup diri untuk membuka cerita tokoh-tokoh yang konon memang sengaja dirahasiakan.
Entahlah, mungkin justru dengan adanya rahasia dari tokoh-tokoh di Peniron itulah yang akhirnya menjadikan Peniron punya ciri khas cerita sejarah tersendiri.

Dari sisi pemerintahan, Peniron pertama kali dipimpin oleh Ki Udadiwangsa, konon beliau memimpin Peniron jauh sebelum tahun 1900an. Makam beliau ada di Istana Gede.
Selanjutnya, Peniron dipimpin oleh Ki Ranareja, yang di sebut-sebut sebagai Demang pertama. Salah satu tokoh nasional yang merupakan garis keturunan dari beliau adalah Edi Nalapraya, seorang jenderal yang dulu pernah memimpin IPSI. Atas kepedulian Edi Nalapraya, komplek pemakaman trah Ranareja kini telah dibangun dengan bagus dan rapi.

Setelah Ki Ranareja, pemimpin ketiga Peniron adalah Eyang Tirtawijaya yang tinggal di Bulugantung. Rumah tinggalnya dulu kini ditempati oleh keluarga Bapak Suroso Titodwiatmojo yang merupakan keturunan ketiga. Eyang Tirtawijaya dimakamkan di pemakaman Bulugantung.
Setelah Eyang Tirtawijaya, kepemimpinan Peniron diteruskan oleh putra beliau yaitu Eyang Ketiwijaya/Kusen yang juga ayah dari Bapak Suroso. Makam Eyang Ketiwijaya ada di Bulugantung.
Pemimpin kelima adalah Samikarya. Masa pemerintahannya adalah sesudah kemerdekaan Indonesia (1945). Pada masa itu, Peniron adalah daerah Gelondongan, yaitu sebuah desa koordinator bagi desa-desa sekitarnya, sehingga Kepala Desa waktu itu lebih dikenal sebagai Gelondong. Karena masa itu tidak ada batasan masa jabatan, dia baru berhenti menjadi Kepala Desa pada tahun 1984.

Pemimpin Peniron yang keenam adalah H. Nursodik yang memimpin Peniron selama 16 tahun, dari tahun 1986 – 2002. Beliau dimakam di Pemakaman Umum Karang Cengis.
Pemimpin ketujuh adalah Triyono Adi, yang memimpin Peniron sebagai Kepala Desa sejak tahun 2002 sampai sekarang.

Demikian sekilas tentang cerita sejarah Peniron. Sebagai tulisan rintisan, tentu masih banyak kekurangan dan kesalahan sehingga yang masih memerlukan banyak penyempurnaan. Siapapun masih sangat mungkin untuk menambah cerita sejarah ini karena diharapkan akan menjadi sebuah cerita sejarah yang lengkap, tentu didukung serta diakui oleh warga Peniron sebagai fakta sejarah Peniron. Dengan demikian, akhirnya akan menambah khasanah sejarah Peniron.

Sumber: Wikipedia

Wednesday, December 26, 2012

Sejarah Berdirinya Desa Kajoran, Karanggayam, Kab. Kebumen


Pada jaman dahulu kala Desa ini namanya Desa JurangJero yang dikelilingi oleh pegunungan kecil, lalu datanglah seseorang yang pintar dan sakti yaitu Mbah Agung dari Jogjakarta. Mbah Donosari atau dikenal Mbah Agung atau Mbah Lugu beliau dikenal sebagai orang yang arif, bijak dan disegani oleh masyarakat Desa Kajoran.
Mbah agung datang ke Desa Jurangjero karena suatu peristiwa yaitu Mbah Agung bermasalah dengan adiknya. Mbah agung adalah anak dari Surya Diningrat adiknya bernama Surya Negara. Mbah Agung disuruh mandi keramas dan minum air degan ijo (kelapa muda hijau) tetapi sudah diminum oleh adiknya. Mbah Agung adu kesaktian dengan adiknya lalu larilah beliau ke Desa Jurangjero karena untuk mencari kesaktian lagi (bertapa). Sebelum pergi ke Desa Jurangjero Mbah Agung berkata kepada adiknya “Runtemurun 7 (pitu) tedap 8 (wolu) yang jadi Ratu adalah Anakku” lalu pergilah ke Desa Jurangjero dan setelah lama di Desa Jurangjero Mbah Agung memperistri seorang wanita dari Desa Jurangjero sebagai selir, istri pertama yang dari Jogjakarta sedang mengandung dan adiknya Mbah Agung yang di Jogjakarta pun sudah beristri dan sama-sama sedang mengandung juga kemudian lahirlah anak Mbah Agung yang berasal dari Desa Jurang Jero seorang Putra tetapi namanya tidak diketahui, Istri dari adiknya Mbah Agung yang di Jogjakarta juga akan melahirkan tetapi mengalami kesulitan kemudian adik dari Mbah Agung pergi ke Desa Jurangjero menjemput Mbah Agung untuk membantu persalinan istrinya agar dapat melahirkan. Mbah Agung menyuruh seorang “Mbah Perempuan” sakti yang dalam sekejap saja bisa sampai di Jogjakarata, mbah perempuan tersebut disuruh Mbah Agung untuk membawa anak dari Mbah Agung untuk ditukarkan dengan bayi dari anak adiknya sehingga anak dari Mbah Agung berada di Jogjakarta dan anak dari adik Mbah Agung berada di Desa Jurang Jero.

Setelah Mbah Agung meninggal dunia dan dimakamkan di Pesarean Gede yang letaknya diantara Dukuh Kewao desa Kajoran dan Desa Karangtengah. Makam Mbah Agung oleh warga masyarakat sampai saat ini masih dieramatkan bahkan pada bulan-bulan tertentu banyak pendatang yang berziarah dan bermeditasi.

Semula Desa ini dinamakan desa Jurangjero dan Sejak berdirinya Masjid Kajoran pada tahun 1819 Desa Jurangjero diubah menjadi Desa Kajoran. Sebelum desa Jurangjero diubah menjadi Desa Kajoran datanglah seorang muslim yaitu Sunan Kalijaga untuk mengajarkan agama islam karena belum adanya tempat mengaji/beribadah maka Sunan Kalijaga membuat Suro/Masjid diDesa Jurangjero yang letaknya di Dukuh Kemojing namun sebelum masjid jadi sunan Kalijaga pulag ke Demak karena di Demak juga sedang membuat Masjid sesampainya di Demak disana ada sunan Giri, sunan Ampel dan Sunan Kalijaga pun ikut membantu membuat Masjid lau ditanyalah Sunan kalijaga oleh Sunan Giri sebagai berikut :

Sunan Giri : Dari mana Sunan Kalijaga ?
Sunan kalijaga : Dari Jurangjero
Sunan Giri : Ngapain disana ?
Sunan Kalijaga : Membuat Masjid...”
Sunan Giri : Jorjoran banget sih, orang disini belum jadi ko membuat disana”

Kemudian Sunan Kalijaga diberi kayu/lakar untuk dipahat namun pada waktu mengkapak kayu tersebut mengenai kepala “Orong-orong” (anjing tanah) sehingga putuslah kepalanya kemudian disambnglah kepala orong-orong tersebut dengan tatal kayu (pecahan kayu jati yang dipahat) sehingga menyatu dan orong-orong tersebut hidup kembali.

Setelah Masjid Demak tersebut jadi daerah tersebut diberi nama Desa Jorjoran oleh Sunan Giri yang kemudian oleh Sunan Kalijaga namanya disempurnakan menjadi Desa Kajoran sampai dengan sekarang setelah itu Sunan Kalijaga kembali ke Desa Jurangjero dan setelah itu Sunan Kalijaga memerintahkan/ memasrahkan kepada anaknya untuk mengajarkan ajaran-ajaran agama islam diMasjid Kajoran kemudian Sunan Kalijaga kembali lagi ke Demak.

Orang-orang yang meneruskan mengajarkan agama islam yaitu :
1. KH. Sanmurdi
2. KH. Mad Mustar
3. KH. Mad Dalyar Dullah Ikhsan
4. KH. Santa Wijaya
Ahirnya banyak orang yang mengaji di Masjid Kajoran dan mengenal agama Islam sampai sekarang ini.

Sumber: Pemdes Kajoran

Sejarah Berdirinya Desa Seling, Karangsambung, Kab. Kebumen


Pada jaman dahulu ada seorang yang sakti yaitu mbah SURANAYA yang sering disebut dengan mbah Penosogan,. mbah penosogan adalah cucu dari mbah AGUNG dari Kajoran..Mbah Agung mempunyai putra bernama mbah NAYADIWANGSA yaitu mbah kedung pane..Mbah Kedung Pane menurunkah Mbah SURANAYA ( Mbah Penosogan ) Mbah Penosogan adalah seorang yang sangat sakti,Beliau orang yang pertama kali babad Alas sembung gani di wilayah yang sekarang menjadi pemukiman dan sebuah Desa yaitu Desa Seling,sehingga ini merupakan sejarah yang harus kita uri-uri jangan sampai hilang dan tidak di kenang oleh anak cucu keturunan dari masyarakat Desa seling sekarang maupun yang akan datang..
setelah mbah Penosogan bermukim/bertempat tinggal yang sekarang menjadi Desa seling..Pada suatu hari 

Mbah penosogan kedatangan tamu dari keraton jogja yang bernama KERTANEGARA, KERTANEGARA mertamu ke mbah Penosogan untuk minta pertolongan/perlindungan kepada mbah penosogan karena beliau dikejar oleh prajurit keraton dan tentara belanda, karena beliau tidak sepakat dengan kedudukan Belanda di Jogja.Sehingga Kertanegara di anggap mbalelo..Waktu itu mbah penosogan setuju setelah mendengar cerita mbah kertanegara..Kemudian mbah penosogan mengusap wajah mbah kertanegara dan berubahlah wujud wajahnya,sehingga siapapun yang melihatnya tidak mengenali wajah mbah kertanegara kalau itu adalah mbah kertanegara..Kemudian kertanegara di beri nama menjadi KERTAPENGALASAN yang sekarang di kenal sebagai mbah PRINGTALI,..

Setelah keraton jogja sudah dianggap aman,.Mbah pringtali/kertanegara kembali ke keraton..Dan kembali ke mbah penosogan dengan membawa seekor kerbau yang berwarna kuning dan seekor jago yang berwarna hitam keling (celink) ayam tersebut tidak ber ekor/lancur seperti umumnya ekor jago namun papak seperti ekor ayam betina..Dan kaki jago tersebut satu berwarna kuning,yang satunya berwarna putih.. Yang sampai saat ini di kenal dengan nama JAGO SELING.. Jago tersebut di berikan kepada mbah Penosogan.. Dan di situlah nama DESA SELING di ambil dari sejarah tersebut

Sumber: Pemdes Seling

Sejarah Berdirinya Desa Lerepkebumen, Poncowarno, Kab. Kebumen


Lerepkebumen adalah sebuah desa yang masuk dalam wilayah Kecamatan Poncowarno, Kabupaten Kebumen. Nama Lerepkebumen diambil dari sebuah peristiwa perjalanan Pangeran Bumidirja, (paman Sultan Amangkurat I) yang sebelumnya menjabat sebagai dewan Parampara (Penasehat) Kerajaan Mataram.
Dikisahkan bahwa Amangkurat I (1646–1677) dalam menjalankan pemerintahan sering tidak sejalan dengan para bawahannya. Hukuman yang dijatuhkan terkadang tidak seimbang dengan kesalahan yang dilakukan. Patih dan seluruh jajaran pemerintahan kerajaan termasuk Kanjeng Pangeran Bumidirja yang merupakan dewan Parampara (Penasehat) berkali–kali memberi nasehat kepada sang Raja bahwa negara akan mengalami kekacauan jika ia tidak bertindak adil dalam menjalankan hukum dan pemerintahan. Namun nasehat–nasehat tersebut justru semakin membuat Amangkurat I marah dan memberi ancaman hukuman kepada Pangeran Bumidirja. Kesabaran Pangeran Bumidirja habis ketika Amangkurat I menjatuhkan hukuman penggal kepada Pangeran Pekik yang telah berjasa banyak kepada kerajaan saat itu (Pengeran Pekik berhasil merebut kembali Surabaya ke tangan Mataram dan menundukkan Sunan Giri yang memberontak kepada Mataram) hanya karena kesalahpahaman kecil yang bersifat pribadi. Pangeran Bumidirja yang mengetahui bahwa keesokan paginya akan dijatuhi hukuman mati juga oleh Sang Raja, berhasil melarikan diri dari kraton bersama keluarganya.
Pelarian Pangeran Bumidirja bersama istrinya diikuti oleh tiga orang abdi setia. Perjalanan mereka menuju ke Panjer. Sesampainya di Panjer, Pangeran Bumidirja beserta rombongan diterima dengan baik oleh Pemimpin Panjer saat itu yakni Ki Gede Panjer II. Pangeran Bumidirja kemudian diberi ijin untuk menempati tanah di wilayah Panjer seluas kurang lebih 3 Pal ke selatan dan ½ Pal ke timur dari tepi sungai Luk Ula. Di tempat tersebut Pangeran Bumidirja kemudian mengganti namanya dengan sebutan Kyai Bumi/Ki Bumi agar tidak dikenal oleh para petugas kraton Mataram yang ditugaskan mencarinya. Tempat Kyai Bumi tersebut akhirnya dikenal warga dengan sebutan Kebumian yang berarti tempat tinggalnya Kyai Bumi. Kyai Bumi pun menjadi sesepuh yang sangat dihormati di tempat tersebut.

Tradisi Pasar Senggol Selang
Sejak kepergian Pangeran Bumidirja dari kraton, Amangkurat I memerintahkan dua orang abdi kraton untuk melakukan pencarian terhadap Pangeran Bumidirja. Utusan Raja tersebut pun akhirnya sampai di Panjer dan berhasil menemukan Pangeran Bumidirja yang ketika itu dikenal sebagai Kyai Bumi/Ki Bumi. Kedua utusan itu kemudian mengutarakan maksud kedatangannya bahwa mereka diutus untuk mencari Pangeran Bumidirja sampai ketemu, dan tidak boleh pulang tanpa membawa serta Pangeran Bumidirja. Kyai Bumi menolak untuk pulang ke kraton sehingga kedua utusan itu pun akhirnya tidak kembali ke kraton serta memilih mengabdi kepada Kyai Bumi. Oleh karena keberadaan Kyai Bumi di Kebumian Panjer telah diketahui, maka ia memutuskan untuk meninggalkan Kebumian agar keberadaannya tidak tercium  lagi oleh kraton. Kyai Bumi beserta keluarga dan para abdinya akhirnya meninggalkan Kebumian Panjer dengan berjalan kaki diikuti oleh para warga Kebumian. Sesampainya di Selang, Kyai Bumi meminta agar para warga berhenti mengikuti kepergiannya dan kembali ke tempatnya masing–masing (tradisi Pasar Senggol Selang adalah untuk mengenang peristiwa tersebut).

Asal Nama Lerepkebumen
Kyai Bumi beserta rombongan pun meneruskan perjalanan ke arah timur melalui jalur utara hingga berhenti di suatu tempat untuk beristirahat semalam. Daerah tersebut kemudian diberi nama Lerepkebumen atau sering disebut juga dengan Lerepbumen. Berasal dari dua kata : Lerep (bahasa Jawa yang berarti Berhenti) dan Bumen yang berasal dari nama sosok Kyai Bumi. Lerepkebumen bermakna tempat berhentinya Kyai Bumi. Setelah beristirahat semalam, rombongan Kyai Bumi melanjutkan perjalanan ke timur dan kemudian ke selatan, hingga berhenti di daerah Karang (daerah ini sekarang masuk dalam wilayah Desa Lundong Kecamatan Kutowinangun Kabupaten Kebumen). Di daerah ini Kyai Bumi menjadi seorang petani.
Karena dua utusan Sultan Amangkurat I tidak kembali lagi ke Mataram, akhirnya sang Raja kembali mengutus dua orang yang benama Udakara dan Surakarti. Dikisahkan bahwa dua orang utusan tersebut pun tidak kembali ke Mataram karena takut akan dijatuhi hukuman sebab tidak bisa membawa pulang Pangeran Bumidirja. Akhirnya Udakara dan Surakarti ikut mengabdi kepada Kyai Bumi.
Kyai Bumi menetap di daerah tersebut hingga akhir hayatnya. Makamnya dikenal dengan Makam Pangeran Bumidirja. Adapun Udakara dan Surakarti dimakamkan berbeda tempat akan tetapi masih dalam satu wilayah yang kini masuk dalam wilayah desa Lundong, Kecamatan Kutowinangun.

Keturunan Kyai Bumi
Kyai Bumi memiliki empat orang anak yakni Kyai GustiKyai BagusNyai Ageng, dan Kyai Bekel. Setelah wafatnya Kyai Bumi, yang menggantikan sebagai sesepuh di daerah tersebut adalah Kyai Bekel. Kemudian diteruskan oleh putra Kyai Bekel yang bernama Kyai Ragil. Sepeninggal Kyai Ragil, sesepuh digantikan oleh anaknya  yang bernama Hanggayuda yang kemudian menjadi Demang Kutowinangun.

Kejanggalan Makam Pangeran Bumidirja
Melihat penggalan cerita yang diambil dari Babad Kebumen ini, dapat disimpulkan bahwa Pangeran Bumidirja adalah Kyai Bumi. Artinya dua nama ini merupakan satu sosok tokoh. Namun, ketika kita melihat di lokasi kompleks makam yang telah dijadikan sebagai kawasan Cagar Budaya Kebumen ini (dimana setiap tahun tepatnya pada peringatan hari jadi Kebumen selalu diziarahi oleh para petinggi pemerintahan Kabupaten Kebumen), ada sebuah kejanggalan yakni terdapatnya makam bertuliskan Pangeran Bumidirja di dalam bangunan (cungkup) dan sebuah makam bertuliskan Kyai Bumi di luar Cungkup sebelah timur. Hal ini kiranya perlu mendapat perhatian dari pihak yang terkait sebab sangat berhubungan erat dengan pelurusan pemahaman sejarah bagi generasi penerus khususnya di Kebumen.

Sumber: Kebumen2013

Sejarah Berdirinya Desa Mangli, Kab. Kebumen


Pada zaman dahulu Desa Mangli berupa hutan. Suatu ketika datang seorang sakti bernama mbah simbar jagat dari kerajaan mataram, beliau yang membabat hutan untuk di jadikan perkampungan, sebelum mbah simbar jagat menunjuk seseorang untuk menjadi kuwu. Pada tahun + 1900, mbah simbar jagat meninggal dan di makamkan di kuburan desa ragadana kecamatan buayan di dikenal dengan kuburan duwur, dan pusaka beliau di simpan di kuburan jati, dinamakan kuburan jati karena pusaka mbah simbar jagat yang disimpan tumbuh pohon jati jadi di namakan p\kuburan jati sampai sekarang, masa perintahan mbah kuwu terletak di dukuh kedunglo  di tempat tinggal beliau.
Pada tahun +1913 mbah kuwu meninggal dan dimakamkan di kuburan kedunglo sekarang di kenal kuburan mati karena tidak di fungsikan lagi, beliau di gantikan oleh Citra manggala/ praya dikrama, +1915, pada waktu itu dalam  penjajahan belanda warga merasa tidak tenang dan gelisah, beliau menyampaikan kepada warga desa supaya jangan mamang ( ragu ) dan jangan ngili (ngungsi ), ucapan beliau di artikan mangli, itu dipakai untuk member nama perkampungan tersebut menjadi desa mangli.

Sumber: wisatakebumen






Sejarah Berdirinya Desa Watulawang, Pejagoan, Kab. Kebumen


Menurut Riwayat, Desa Watulawang pertama di buka oleh Mbah Kebayeman ( Mbah Santanaya ) yang merupakan Buyut dari Mbah Agung Kajoran. Mbah Agung sendiri adalah sebagai pelopor pembukaan lahan lahan di daerah Kajoran, Watulawang, Peniron, dan sekitarnya. Kemudian di susul Mbah Mertanaya yang juga masih Canggah ( keturunan ke 4) dari Mbah Agung.
Mereka Bersama sama membakari hutan di perbukitan sebelah Lor Gunung Pranji, dan menjadikan sebagai lahan pertanian dan tempat tinggal. Konon Jaman dahulu, alas – alas di babat masih sangat wingit, sehingga Eyang kebayeman bersama pengikutnya sering menjumpai hal – hal yang gaib, salah satu contohnya pada waktu membabad alas di daerah wungu dengan cara membakar, ada suatu tempat yang tidak terjamah api sama sekali, setelah di amati ternyata ada 2 buah benda yaitu Pethet (sisir) dan Pengilon ( cermin ) untuk menandainya di buatlah kuwu ( tempat yang di keramatkan, disucikan ) yang sampai sekarang masih ada.
Nama Watulawang sendiri di ambil dari nama batu yang menyerupai pintu yang terletak di persawahan watulawang ( Foto Pendukung belum ada ) dan batu itu sampai sekarang juga masih ada, bentuknya memang mirip pintu, tapi katanya sekarang sudah berubah posisi ( melebar ).
Eyang Kebayeman menurunkan trah – trah Eyang di Watulawang, bahkan ada beberapa juga yang menjadi Lurah.
Mbah Mertanaya menurunkan darah biru sebagai Lurah di Watulawang, bahkan sampai saat ini. Anak ke-empat dari Mbah mertanaya yaitu mbah Mertaguna bersuamikan mbah Mertaguna dari Karang Kemiri yang kemudian menjadi  Lurah pertama di Watulawang.
Karena suatu hal, mbah Mertaguna menyerahkan Jabatannya, dan mengungsi ke bawah ke daerah Pertapan ( Peniron ), dan mukin disana sampai wafatnya  dan di kebumikan di Bulu gantung.
Sebagai gantinya, adalah keponakannya sendiri, yaitu mbah Danawangsa ( Putra mbah Ketawangsa kakak dari Ny. Mertaguna ) dan seterusnya sampai sekarang seperti susunan di bawah ini :
 Sejarah Lurah Watulawang:

  1. Mertaguna
  2. Dana wangsa
  3. Santika
  4. Majatirta
  5. Cawirana
  6. Sanreja
  7. Pancasemita
  8. Kramareja                1918 – 1965
  9. Dapin                       1965 – 1966 ( masa pemberontakan PKI )
  10.  Sawad                     1966 – 1988
  11.  Sudjanto                 1988 – 1998
  12.  Dirun                      1998 – 2006
  13.  Warsono                 2006 – sekarang
Sumber: Gareng88

Sejarah Berdirinya Desa Gunung Mujil, Kuwarasan, Kab. Kebumen


LEGENDA DAN SEJARAH DESA GUNUNGMUJL
KEC. KUWARASAN

Pada jaman dahulu, yaitu sebelun tahun 1926 Desa Gunungmujil Kecamatan Kuwarasan Kabupaten Kebumen, masih dua Desa yaitu Desa Gintungan dan Desa Gunungmujil yang dipimpin dua orang Kepala Desa sebagai berikut :
1. Desa Gintungan dipimpin oleh Madnawi.
2. Desa Gunungmujil dipimpin oleh Ranawijaya.
Selanjutnya pada tahun 1926 Desa Gintungan dan Desa Gunungmujil di blengket atau disatukan menjadi satu yaitu Desa Gunungmujil yang dipimpin oleh Ranawijaya sampai dengan tahun 1942. Selanjutnya perkembangan legenda dan sejarah Desa Gunungmujil adalah sebaga berikut :

Sejarah Pemerintahan
1942 PJS Ronodimejo
1946 Pemilihan Kepala Desa
1965 Huru hara politik
1982 Pembangunan balai desa
PJS Karayawireja congkog
1985 PJS Sanwihajo SEKDES
1989 Pesta Demokrasi
Pembangunan kantor sekretariat
1993 PJS Sanparjo
1994 Pesta Demokrasi ( Sarno )
1997 Serangan hama keong
2002 Pesta Demokrasi (Drs.Adno)
2007 Pesta Demokrasi (Sunarko) 

Sumber: Mustika Aji

Sejarah Berdirinya Desa Kaligending, Karangsambung, Kab. Kebumen


Perjalanan panjang Danang Sutawijaya mengikuti suara gamelan Lokananta itu, sampailah di pesisir Urut Sewu Kebumen. Di Pantai Logending, yang kini masuk kecamatan Ayah Kebumen, suara gamelan itu ternyata menuju ke arah Utara. Danang Sutawijaya pun mengikutinya.
Di sebuah sungai yang kini bernama Luk ULa, rombongan kerajaan Mataram itu naik perahu. Mereka ternyata menantang arus untuk mengikuti suara gamelan tersebut. Hingga di suatu tempat, suara gending itu berhenti. “Setelah suara gending berhenti, Danang Sutawijaya kemudian bubak alas (membuka hutan) dan menjadikannya desa yang diberi nama Kaligending, “ kata sesepuh Desa Kaligending, Kecamatan Karangsambung, Kebumen, Karsono yang didampingi Pardi.
Kisah Turun temurun bedirinya Desa kaligending itu dijadikan masyarakat setempat untuk menggelar merdi Bumi (selamatan bumi). Waktu yang digunakan yakni pada Sura Jumat Kliwon. “ Kalau di bulan itu tidak ada Kliwon, maka yang diambil Jumat Manis,” katanya.
Merdi bumi dengan kesenian tayub itu diiringi gending. Petilasan Danang Sutawijaya hingga kini masih dirawat masyrakat setempat. Warga membuatkannya sebuah bangunan kecil yang tertera angka 1842. Sekitar lokasi tersebut dijadikan tempat pemakaman umum. “ Bangunannya, saat ini sudah rapuh dan perlu direhab. Kami berharap ada bantuan dari Pemerintah,” kata Karsono.
Praktisi Sejarah Kebumen, Ravie Ananda mengatakan, hubungan kerajaan Pajang dan Mataram sempat berkecamuk hingga terjadi pertempuran sengit antara Hadiwijaya dan Danang Sutawijaya. Ayah dan anak angkat itu pun bertempur dan berusaha saling bunuh.
Hingga akhirnya, Danang Sutawijaya berhasil memenangkan pertempuran. Dan, Hadiwijaya terbunuh. Selanjutnya, Danang Sutawijaya mendirikan kerajaan mataram Islam. Sutawijaya bergelar Panembahan Senopati. Dia memerintah tahun 1587-1601 dan wafat tahun 1601 di Desa Kajenar. Kemudian dimakamkan di Kotagede bersama dengan ayahandanya Ki Ageng Pemanahan. (Arif Widodo – Suara Merdeka Cetak; Rabu, 5 Januari 2011)